Sanggar Seni Betawi Setu Babakan menjadi ruang bagi Sahroni untuk menjaga kesinambungan seni tradisional Jakarta sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda. Selama 24 tahun, pria yang akrab disapa Bang Roni itu mempertahankan kegiatan sanggar agar anak-anak tetap memiliki tempat untuk belajar tari dan mengenal kebudayaan Betawi.
Suasana latihan di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, menghadirkan pemandangan anak-anak yang mengikuti irama musik sambil mempelajari berbagai gerakan tari. Mereka menghafal setiap rangkaian, mempraktikkannya, kemudian mengulang latihan sampai mampu mengikuti tempo dengan baik.
Di balik kegiatan tersebut, Sahroni (56) menjalankan peran penting sebagai Ketua Sanggar Seni Betawi Setu Babakan. Sanggar itu mulai berdiri pada 30 Juli 2002. Sejak saat itu, Roni bersama para pelatih terus membuka ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mendalami kesenian khas Betawi.
Perjalanan selama lebih dari dua dekade juga memberikan pengalaman tersendiri bagi Roni. Ia menyaksikan sejumlah anak yang dahulu datang sebagai peserta latihan tumbuh menjadi seniman dan pelatih. Bahkan, beberapa alumni kemudian membangun sanggar mereka sendiri.
Berawal dari Minat Masyarakat terhadap Kesenian Betawi
Cikal bakal Sanggar Seni Betawi Setu Babakan muncul sekitar 2001. Ketika itu, masyarakat di sekitar Perkampungan Budaya Betawi mengikuti program pelatihan kesenian yang mencakup tari, musik, teater, hingga lenong.
Sejumlah tenaga berpengalaman mendampingi masyarakat selama program berlangsung. Pada periode yang sama, Roni bekerja di lingkungan Perkampungan Budaya Betawi dan ikut membantu jalannya kegiatan tersebut.
Respons masyarakat kemudian memberikan dorongan besar untuk membangun wadah yang lebih permanen. Anak-anak dan warga menunjukkan minat tinggi untuk terus berlatih. Kondisi itu membuat para pelatih memikirkan keberlanjutan kegiatan setelah program selesai.
Mereka tidak ingin proses belajar masyarakat berhenti begitu saja. Karena itu, para pendiri sepakat menyediakan tempat yang dapat menampung orang-orang yang ingin terus mengembangkan kemampuan dalam kesenian Betawi.
Gagasan tersebut akhirnya melahirkan Sanggar Seni Betawi Setu Babakan pada 30 Juli 2002. Para pendiri memilih nama yang langsung menggambarkan tujuan sanggar, yakni menyediakan ruang khusus untuk mempelajari sekaligus mengembangkan seni dan budaya Betawi.
Lebih dari 700 Orang Pernah Bergabung
Pada awal perjalanannya, sanggar menawarkan kegiatan yang cukup beragam. Peserta tidak hanya mempelajari tari tradisional, tetapi juga mengenal musik gambang kromong serta silat beksi.
Jumlah peserta terus berubah seiring perjalanan waktu. Namun, catatan administratif sanggar menunjukkan lebih dari 700 orang pernah bergabung sejak tempat tersebut berdiri.
Dampaknya juga tidak berhenti di ruang latihan Setu Babakan. Sejumlah alumni membawa keterampilan yang mereka peroleh ke lingkungan lain. Beberapa di antaranya memilih menjadi pelatih, sedangkan lainnya mendirikan sanggar baru.
Roni menyebut Erik sebagai salah satu contoh. Setelah menjalani proses belajar, Erik kemudian mengembangkan kemampuan sebagai pelatih tari dan musik serta mendirikan sanggar sendiri.
Bagi Roni, perjalanan para alumni tersebut justru menunjukkan keberhasilan proses regenerasi. Sanggar tidak hanya menghasilkan orang yang mampu menari atau memainkan musik, tetapi juga melahirkan generasi yang dapat membagikan kembali pengetahuan mereka kepada orang lain.
Pandemi Membuat Sanggar Harus Memulai Kembali
Perjalanan panjang Sanggar Seni Betawi Setu Babakan menghadapi tantangan besar ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas latihan berhenti selama lebih dari dua tahun karena masyarakat memprioritaskan kesehatan dan membatasi kegiatan tatap muka.
Situasi itu sangat memengaruhi sanggar karena mayoritas peserta berasal dari kalangan anak sekolah. Mereka kehilangan rutinitas latihan yang sebelumnya berlangsung secara teratur.
Setelah kondisi membaik, Roni dan para pelatih harus membangun kembali kegiatan hampir dari awal. Mereka mengajak peserta kembali berlatih dan secara bertahap menata aktivitas sanggar.
Sebelum pandemi, tingginya jumlah peserta bahkan membuat pengelola perlu membagi latihan ke dalam beberapa kelas. Kini, sekitar 30 anggota aktif mengikuti kegiatan sanggar.
Pengelola juga lebih banyak memusatkan aktivitas pada seni tari. Roni bersama tim masih berusaha memperkuat kembali kegiatan setelah pandemi mengubah pola latihan dan jumlah peserta.

Pak Sahroni, Ketua Sanggar Tari Betawi Setu Babakan.
Budaya Lokal Tetap Bisa Berjalan Bersama Tren Modern
Perubahan selera generasi muda juga menjadi tantangan tersendiri. Musik dan budaya populer dari berbagai negara semakin mudah menjangkau anak-anak melalui internet dan media sosial. Namun, Roni tidak melihat perkembangan tersebut sebagai ancaman yang harus mereka hindari.
Menurutnya, generasi muda tetap boleh mengenal K-pop, budaya Barat, ataupun bentuk kesenian modern lainnya. Meski demikian, ia berharap anak-anak tetap membangun kecintaan terhadap budaya Indonesia, khususnya kesenian dari lingkungan mereka sendiri.
Karena itu, Roni memilih pendekatan yang terbuka. Ia tidak ingin memaksa anak-anak menjauhi budaya modern. Sebaliknya, para pelatih berusaha mengenalkan seni tradisional dengan sabar dan konsisten agar generasi muda memahami nilai budaya yang mereka miliki.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena mempertahankan kebudayaan membutuhkan regenerasi. Ketika anak-anak merasa dekat dengan kesenian lokal, peluang mereka untuk terus mempelajari dan meneruskannya juga semakin besar.
Kesenian Tradisional Masih Menarik Banyak Orang
Roni melihat minat masyarakat terhadap kesenian tradisional tetap kuat. Bahkan, menurut pengamatannya, semakin banyak anak yang tidak lagi menganggap kegiatan seni hanya sebagai pengisi waktu luang.
Sebagian peserta mulai mengejar prestasi dan kesempatan tampil di berbagai acara. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap mempunyai ruang di tengah berkembangnya budaya populer.
Roni pernah menyaksikan tingginya antusiasme masyarakat dalam kegiatan budaya di kawasan Kota Tua dan Perkampungan Budaya Betawi. Salah satu kegiatan tari massal di Perkampungan Budaya Betawi bahkan pernah melibatkan sekitar 1.000 peserta.
Besarnya keterlibatan masyarakat itu memberikan optimisme mengenai masa depan kebudayaan lokal. Roni menilai jumlah pelaku seni dan masyarakat yang mendukung pelestarian budaya masih sangat besar dan bahkan terus berkembang.
Regenerasi Menjadi Ukuran Keberhasilan
Setelah memimpin sanggar selama puluhan tahun, Roni tidak menjadikan jumlah anggota atau ukuran organisasi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Ia justru melihat hasil pendidikan seni dari perjalanan para peserta setelah mereka meninggalkan ruang latihan.
Seorang anak mungkin datang untuk belajar gerakan dasar tari. Beberapa tahun kemudian, anak tersebut dapat berkembang menjadi penari, pelatih, atau bahkan pendiri sanggar baru.
Pola regenerasi itulah yang membuat pengetahuan mengenai kesenian Betawi terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika seorang alumni mengajarkan keterampilannya kepada murid baru, perjalanan budaya tersebut kembali berlanjut.
Semangat itu pula yang membuat Sahroni tetap bertahan bersama Sanggar Seni Betawi Setu Babakan setelah 24 tahun. Ia berharap generasi muda semakin mencintai kesenian tradisional Indonesia tanpa harus menjauhkan diri dari perkembangan zaman.
Selama masih ada anak-anak yang bersedia datang, mengikuti irama musik, menghafal gerakan, lalu membagikan keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya, upaya menjaga budaya Betawi akan terus menemukan penerusnya.