Tarif Masuk Ragunan menjadi pembahasan setelah muncul rencana penyesuaian harga bagi pengunjung Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan. Salah satu angka yang muncul dalam pembahasan tersebut ialah Rp 10.000 untuk pengunjung dewasa. Meski demikian, masyarakat belum perlu membayar harga itu karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menetapkannya sebagai tarif resmi.
Rencana perubahan harga tersebut berkaitan dengan kebutuhan pengelolaan kawasan yang cukup besar. Ragunan tidak hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat berekreasi. Pengelola juga harus menjaga kondisi satwa, merawat tumbuhan, serta memastikan berbagai fasilitas di dalam kawasan tetap berfungsi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan pada Kamis (17/9/2026) bahwa pemerintah masih mempelajari kemungkinan penyesuaian harga. Ia melihat tarif Ragunan saat ini berada pada tingkat yang sangat rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan pengelolaan sebuah kebun binatang di ibu kota.
Karena pemerintah belum mengambil keputusan akhir, pembicaraan mengenai tiket Rp 10.000 saat ini masih berstatus usulan.
Dari Rp 4.000 Menuju Rp 10.000
Wacana perubahan tarif masuk Ragunan sebelumnya mendapat dorongan dari Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya. Pada awal September 2026, Dimaz meminta pembahasan penyesuaian harga yang telah berlangsung cukup lama segera memperoleh tindak lanjut.
Skema yang ia usulkan mencakup dua kelompok pengunjung. Untuk orang dewasa, harga yang sekarang sebesar Rp 4.000 berpotensi berubah menjadi Rp 10.000. Adapun tiket anak-anak yang saat ini Rp 3.000 mendapat usulan harga baru sebesar Rp 7.500.
Menurut Dimaz, rencana tersebut sebenarnya bukan pembahasan baru karena wacananya sudah muncul sejak tahun sebelumnya. Namun, prosesnya belum menghasilkan perkembangan yang signifikan.
Dimaz tidak hanya menyoroti pemasukan. Ia juga meminta pengelola memberikan kualitas layanan yang lebih baik apabila pemerintah akhirnya menaikkan harga. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat manfaat nyata dari tambahan biaya yang mereka keluarkan.
Biaya Pengelolaan Ragunan Menjadi Pertimbangan
Besarnya kebutuhan untuk mengelola kawasan menjadi salah satu alasan Pemprov DKI mempertimbangkan perubahan harga.
Pengelola harus memenuhi berbagai kebutuhan flora dan fauna sekaligus menjaga operasional tempat wisata. Pramono menilai kondisi tersebut membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Sementara itu, harga tiket yang berlaku sekarang relatif murah.
Aktivitas di kawasan Ragunan juga terus berkembang. Salah satu perubahan yang mendapat perhatian ialah hadirnya kegiatan pada malam hari. Program tersebut ikut meningkatkan kunjungan masyarakat.
Namun, peningkatan aktivitas tentu membawa kebutuhan pengelolaan tambahan. Karena itulah pemerintah memasukkan kondisi operasional kawasan sebagai bagian dari pertimbangan sebelum menentukan kebijakan harga.

Suasana teduh di bawah pepohonan rindang menjadi pilihan banyak pengunjung Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, untuk menikmati momen libur Lebaran.
Pengunjung Ingin Perubahan Terlihat Nyata
Respons masyarakat terhadap kemungkinan tiket Rp 10.000 cukup beragam. Beberapa pengunjung dapat menerima nominal tersebut, tetapi mereka menginginkan peningkatan kualitas kawasan sebagai timbal balik.
Mawadah Putri (29) termasuk pengunjung yang masih menganggap angka Rp 10.000 terjangkau. Meski begitu, ia menginginkan suasana Ragunan yang lebih nyaman, terutama melalui penambahan pepohonan dan penghijauan.
Menurut Mawadah, kondisi panas dapat mengurangi kenyamanan selama berkeliling. Area yang semakin rindang dapat membantu pengunjung menikmati aktivitas di kawasan kebun binatang dengan lebih nyaman.
Perhatiannya juga tertuju pada fasilitas dasar. Petunjuk arah perlu memberikan informasi yang mudah dipahami sehingga pengunjung tidak kesulitan mencari lokasi. Selain itu, toilet dan mushala membutuhkan kebersihan yang konsisten.
Keluarga yang membawa bayi juga membutuhkan fasilitas memadai. Karena itu, Mawadah turut menyoroti ruang menyusui dan area untuk mengganti popok anak.
Perawatan Satwa dan Keterbukaan Dana Ikut Disorot
Nanat (36), pengunjung asal Depok, melihat Ragunan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar tujuan rekreasi. Kawasan tersebut juga memberikan ruang edukasi bagi anak sekaligus menjalankan fungsi konservasi.
Atas dasar itu, Nanat memahami bahwa pengelola membutuhkan anggaran besar untuk menjalankan seluruh fungsi tersebut. Ia dapat menerima perubahan harga selama masyarakat dari berbagai lapisan tetap mampu menjangkaunya.
Selain keterjangkauan, penggunaan tambahan pendapatan menjadi perhatian pengunjung.
Achmad Bayhak, misalnya, menganggap angka maksimal Rp 10.000 masih dapat menjadi pilihan. Namun, ia berharap pemerintah tidak menaikkan harga melampaui nominal tersebut karena Ragunan menjadi salah satu tempat hiburan yang dapat masyarakat nikmati dengan biaya relatif murah.
Achmad juga menginginkan keterbukaan mengenai pemanfaatan uang dari kenaikan harga. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui apakah tambahan pendapatan tersebut mendukung perawatan satwa, kebersihan kawasan, serta peningkatan fasilitas.
Ia turut mengusulkan penerapan perubahan harga secara bertahap. Selain itu, kelompok tertentu dan anak-anak tetap perlu memperoleh skema tarif khusus.
DPRD Dorong Ragunan Mencari Sumber Pendapatan Lain
Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin memiliki perhatian tersendiri terhadap rencana tersebut. Menurutnya, kenaikan harga harus berjalan bersama perubahan kualitas layanan.
Artinya, pengunjung seharusnya tidak sekadar membayar lebih mahal tanpa mendapatkan pengalaman yang lebih baik.
Suhud juga melihat potensi pemasukan Ragunan tidak harus bertumpu pada penjualan tiket. Pengelola dapat memperluas kegiatan komersial melalui tempat makan, penjualan merchandise, fasilitas tambahan, ataupun aktivitas lain yang relevan dengan karakter kawasan.
Pilihan tersebut dapat membuka sumber pemasukan baru sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.
Selain itu, Suhud melihat peluang kerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan bagian kawasan yang belum memiliki pemanfaatan maksimal. Kehadiran fasilitas atau atraksi baru dapat memberikan sumber pendapatan tambahan serta meningkatkan minat masyarakat untuk kembali datang.
Harga Lama Masih Berlaku
Sampai pemerintah menetapkan keputusan baru, wacana Rp 10.000 belum mengubah tarif masuk Ragunan yang berlaku. Pemprov DKI Jakarta masih menimbang kebutuhan operasional, kemampuan masyarakat, serta kualitas pelayanan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Perdebatan mengenai harga tiket pun berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya memperhatikan selisih beberapa ribu rupiah, tetapi juga mempertanyakan perubahan apa yang akan mereka rasakan setelah membayar lebih.
Karena itu, peningkatan kenyamanan, kebersihan, kualitas fasilitas, pengelolaan kawasan, serta perawatan satwa menjadi bagian penting dalam pembicaraan tersebut. Keputusan akhir mengenai harga tiket kini berada di tangan Pemprov DKI Jakarta.