Erupsi Gunung Anak Krakatau membawa dampak ke wilayah yang cukup jauh dari kawasan Selat Sunda pada akhir pekan ini. Pergerakan abu mengikuti perubahan angin dan menjangkau sejumlah daerah di Pulau Jawa serta Sumatera. Masyarakat di sebagian Sukabumi bahkan mengalami gangguan pada mata ketika berkendara pada Sabtu (5/9/2026) malam.
Aktivitas vulkanik tersebut juga berdampak pada sektor transportasi udara. Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami penutupan pada Minggu (6/9/2026) dini hari akibat kondisi yang berkaitan dengan erupsi.
Situasi ini berkembang setelah Anak Krakatau kembali aktif sejak 2 Juli 2026. Intensitas aktivitas gunung kemudian bertambah pada periode Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Dentuman yang menyertai aktivitas tersebut dapat terdengar hingga kawasan Bandung Raya.
Badan Geologi merespons peningkatan aktivitas dengan kembali mengingatkan masyarakat mengenai zona keselamatan. Semua orang harus menjaga jarak sekurang-kurangnya tiga kilometer dari pusat erupsi.
Aturan tersebut berlaku bagi warga setempat maupun pengunjung, wisatawan, dan pendaki. Kawasan terdekat dengan pusat aktivitas memiliki sejumlah ancaman, mulai dari material pijar hingga konsentrasi abu dan gas vulkanik.
Angin Membawa Abu ke Berbagai Arah
Pemantauan satelit memberikan gambaran mengenai luasnya pergerakan material yang keluar dari Anak Krakatau. Citra RGB Himawari-9 menjadi salah satu sumber untuk membaca arah perjalanan abu di atmosfer.
Pemantauan pada Sabtu malam memperlihatkan perbedaan arah berdasarkan ketinggian. Material pada lapisan yang lebih rendah cenderung bergerak menuju sektor tenggara dan selatan. Banten serta Jawa Barat termasuk dalam area yang berada di jalur tersebut.
Berbeda dengan lapisan rendah, material yang mencapai ketinggian lebih besar memiliki jangkauan ke sektor barat. Jalurnya mencakup sejumlah kawasan di Sumatera dan perairan sekitar Selat Sunda.
Pada pemantauan tersebut, cakupan abu meliputi Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan hingga Sumatera Barat. Material juga bergerak menuju Samudra Hindia di sebelah barat Pulau Sumatera dan Banten.
Ketinggian abu menjadi salah satu faktor yang membuat pola penyebarannya berbeda. Pemantauan mencatat klaster pertama berada pada rentang dari permukaan sampai sekitar 20.000 kaki. Sementara itu, klaster lainnya mencapai sekitar 50.000 kaki.
Pola Sebaran Berubah pada Minggu Pagi
Arah pergerakan material tidak bertahan dalam satu pola. Kondisi atmosfer mengubah jalur abu hanya dalam hitungan beberapa jam.
Data terbaru pada Minggu pukul 05.00 WIB menunjukkan bahwa material pada lapisan hingga 20.000 kaki mulai bergerak menuju timur laut dan selatan. Perubahan tersebut membawa sebagian abu ke jalur yang mencakup DKI Jakarta.
Selain Jakarta, wilayah Banten dan Jawa Barat masih masuk dalam cakupan pergerakan abu. Perairan di sekitar kawasan tersebut juga berada dalam jalurnya.
Sementara itu, material yang mencapai lapisan hingga 50.000 kaki masih bergerak pada sektor barat daya sampai barat laut. Jalurnya mencakup sebagian Banten dan Bengkulu.
Sebaran pada lapisan tinggi juga melewati Selat Sunda bagian selatan dan kawasan Samudra Hindia. Wilayah laut di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten termasuk dalam cakupan tersebut.
Perbandingan pemantauan Sabtu malam dan Minggu pagi memperlihatkan perubahan yang cukup jelas. Karena angin terus bergerak, wilayah yang berada pada jalur abu juga dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Peta sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau Menyebar hingga wilayah pesisir Banten bagian barat.
Pengendara di Sukabumi Alami Gangguan Mata
Jauh dari kawasan Anak Krakatau, warga Sukabumi mulai merasakan dampak material yang terbawa melalui udara. Sejumlah pengendara sepeda motor mengeluhkan mata pedih pada Sabtu malam.
Salah satunya ialah Waldi, warga Cibadak berusia 28 tahun. Sekitar pukul 21.31 WIB, ia melakukan perjalanan dari kawasan RSUD Sekarwangi menuju arah kantor Kecamatan Cibadak.
Di tengah perjalanan, matanya mulai terasa pedih. Sensasi panas juga muncul pada bagian kelopak dan membuat matanya berair.
Gangguan tersebut cukup kuat hingga Waldi memilih berhenti sejenak di tepi jalan. Ia menggambarkan material yang mengenai wajahnya seperti debu halus yang terbawa angin.
Kondisi hampir sama terjadi di kawasan lain di Sukabumi. Heryadi yang tinggal di Kecamatan Selabintana mengalami gangguan ketika pulang dari Kota Sukabumi sekitar pukul 22.10 WIB.
Rasa pedih pada mata membuat Heryadi menghentikan sepeda motornya. Ia juga melihat beberapa pengguna jalan melakukan tindakan serupa untuk membersihkan mata.
Pengalaman para pengendara tersebut memperlihatkan bahwa material halus di udara dapat mengganggu perjalanan. Pengguna sepeda motor memiliki paparan lebih besar karena wajah mereka berhadapan langsung dengan udara luar.
Dampak Erupsi Tidak Terbatas di Sekitar Gunung
Jarak yang jauh dari Anak Krakatau tidak selalu membuat suatu wilayah terbebas dari pengaruh erupsi. Angin mampu membawa partikel vulkanik melintasi perairan dan daratan menuju daerah lain.
Kondisi ini menjelaskan mengapa masyarakat di Jawa Barat dapat merasakan gangguan meskipun pusat aktivitas berada di kawasan Selat Sunda. Sebaran yang mencapai jalur penerbangan juga memperlihatkan luasnya konsekuensi aktivitas vulkanik tersebut.
Karena itu, perkembangan arah angin menjadi bagian penting dalam pemantauan. Perubahan atmosfer dapat membawa material menuju kawasan yang sebelumnya tidak berada pada jalur utama.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu mengikuti pembaruan informasi mengenai aktivitas gunung dan pergerakan abu. Langkah tersebut membantu warga menyesuaikan kegiatan ketika konsentrasi material vulkanik meningkat.
Radius Tiga Kilometer Harus Tetap Kosong
Risiko terbesar tetap berada di sekitar pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Oleh sebab itu, Badan Geologi menetapkan batas tiga kilometer sebagai area yang tidak boleh menjadi lokasi aktivitas masyarakat.
Material pijar menjadi salah satu ancaman bagi siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pusat erupsi. Selain itu, abu dalam konsentrasi tinggi serta gas vulkanik dapat meningkatkan risiko keselamatan.
Wisatawan dan pendaki juga harus mengikuti pembatasan tersebut. Aktivitas wisata tidak boleh mengabaikan rekomendasi keselamatan meskipun kondisi dari kejauhan terlihat memungkinkan.
Sementara bagi masyarakat yang tinggal lebih jauh, perhatian utama tertuju pada arah penyebaran abu. Pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan apabila partikel vulkanik mulai mengganggu pandangan atau menyebabkan rasa pedih pada mata.
Perkembangan selama Sabtu malam hingga Minggu pagi memperlihatkan bahwa dampak aktivitas Anak Krakatau dapat berubah dengan cepat. Pemantauan resmi karena itu menjadi rujukan penting untuk mengetahui kondisi gunung sekaligus wilayah yang berpotensi berada dalam jalur material vulkanik.