Wisata Kuliner Chuncheon menawarkan cara berbeda bagi wisatawan Indonesia yang ingin menikmati Korea Selatan melalui cita rasa khas daerah. Kota yang berada di Provinsi Gangwon ini tidak hanya terkenal berkat dakgalbi, tetapi juga mulai menghubungkan kekayaan kulinernya dengan destinasi wisata, aktivitas alam, minuman tradisional, serta produk pertanian lokal.
Pemerintah Korea Selatan memperkuat potensi tersebut melalui program K-Chicken Belt yang mulai diperkenalkan pada Juni 2026. Program ini menghubungkan 552 restoran dan tempat makan yang tersebar di 30 kota. Masing-masing daerah membawa karakter hidangan ayam khasnya sendiri.
Dalam program tersebut, Chuncheon menempatkan dakgalbi sebagai salah satu daya tarik utama. Masyarakat setempat mengolah ayam dengan bumbu khas dan menyajikannya melalui berbagai teknik memasak. Popularitas hidangan ini kemudian membuka peluang bagi kota tersebut untuk mengembangkan pengalaman perjalanan yang berpusat pada makanan.
Pemerintah Kota Chuncheon selanjutnya bekerja sama dengan KORAIL Tourism Development untuk menyusun perjalanan khusus. Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak sekadar datang untuk makan, tetapi juga dapat mengenal budaya, hasil pertanian, minuman tradisional, hingga berbagai destinasi yang menjadi identitas Chuncheon.
Dakgalbi Jadi Pintu Masuk Mengenal Kuliner Chuncheon
Dakgalbi memegang peranan penting dalam pengembangan wisata kuliner Chuncheon. Namun, paket perjalanan yang pemerintah kota susun tidak hanya berfokus pada satu menu tersebut. Wisatawan juga berkesempatan mencicipi ayam barbekyu panggang serta makguksu, yaitu mi soba yang menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Selain menikmati makanan, peserta dapat mengunjungi lokasi pembuatan minuman tradisional. Kemudian, perjalanan berlanjut menuju sejumlah tempat wisata, termasuk Kereta Gantung Danau Gunung Samaksan dan Pusat Kegiatan Hutan Nasional.
Dengan demikian, program tersebut menggabungkan pengalaman gastronomi dengan rekreasi dalam satu perjalanan. Konsep ini juga memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat Chuncheon dari sisi yang lebih luas daripada sekadar kota asal dakgalbi.
KORAIL menjadwalkan paket wisata tersebut secara terbatas pada Oktober. Program perjalanan satu hari berlangsung pada 16 Oktober. Sementara itu, wisata dua hari tersedia pada 23–24 Oktober serta 30–31 Oktober.
Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terbilang tinggi. Seluruh kuota reservasi habis hanya sehari setelah penyelenggara membuka penjualan. Kondisi itu menunjukkan besarnya minat terhadap perjalanan yang memadukan makanan khas dengan pengalaman lokal.
Setelah tahap uji coba berakhir, Pemerintah Kota Chuncheon berencana mengambil alih pengelolaan paket tersebut. Pemerintah kota kemudian dapat mengembangkannya menjadi salah satu bisnis pariwisata lokal yang berkelanjutan.
Bahan Pertanian Lokal Perkuat Identitas Kuliner
Pengembangan wisata kuliner Chuncheon juga memberi ruang besar bagi penggunaan bahan pangan dari wilayah sekitar. Pendekatan ini membantu pelaku usaha memperkenalkan hasil pertanian lokal sekaligus menciptakan pengalaman yang memiliki hubungan kuat dengan karakter daerah.
Jisiul Brewery menjadi salah satu lokasi yang masuk dalam rangkaian perjalanan. Tempat tersebut memproduksi minuman tradisional dengan memanfaatkan perlengkapan khas Korea, termasuk sojugori atau alat penyuling berbahan tanah liat serta berbagai jenis gerabah.
Produsen tersebut menggunakan air, bunga, dan beras dari kawasan sekitar sebagai bahan utama. Karena itu, wisatawan tidak hanya mengenal produk akhirnya, tetapi juga dapat memahami hubungan antara bahan baku lokal dengan tradisi pembuatan minuman.
Selain Jisiul Brewery, Hosu Brewery turut mengusung pendekatan serupa. Tempat ini memasangkan minuman tradisional dengan beragam hidangan. Bahkan, lebih dari 70 persen bahan pangan yang mereka gunakan berasal dari daerah setempat.
Konsep tersebut memperkuat hubungan antara sektor kuliner dan pertanian. Pada saat yang sama, pelaku usaha lokal mendapatkan kesempatan lebih besar untuk memperkenalkan produk daerah kepada wisatawan.

Ilustrasi dakgalbi.
Kentang Lokal Diolah Menjadi Bir hingga Pizza
Kreativitas pengolahan hasil pertanian juga terlihat di Gamja Island. Tempat makan yang menempati bangunan bekas gereja tersebut memanfaatkan berbagai komoditas lokal sebagai bagian utama dari menunya.
Kentang menjadi salah satu bahan yang paling menonjol. Selain itu, pengelola menggunakan tomat, wortel, mentimun, dan sayuran lainnya untuk menghasilkan berbagai makanan maupun minuman.
Dari bahan-bahan tersebut, Gamja Island menciptakan produk seperti bir, pizza, hingga ayam goreng. Oleh karena itu, pengunjung dapat melihat bagaimana komoditas pertanian sederhana memperoleh nilai tambah melalui inovasi kuliner.
Pendekatan semacam ini sekaligus memperkenalkan identitas Chuncheon melalui rasa. Wisatawan dapat memahami bahwa daya tarik kuliner kota tersebut tidak berhenti pada dakgalbi, melainkan juga mencakup kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya daerah.
K-Chicken Belt Dorong Wisata Berbasis Makanan
Pemerintah Korea Selatan sebelumnya merencanakan peluncuran K-Chicken Belt pada 2032. Namun, pemerintah kemudian mempercepat program tersebut setelah hasil survei menunjukkan tingginya minat wisatawan asing terhadap hidangan ayam Korea.
Perkembangan itu mendorong sejumlah daerah untuk memanfaatkan makanan khas sebagai magnet perjalanan. Selain Chuncheon, beberapa wilayah lain juga mulai menyiapkan konsep serupa.
Gumi di Provinsi Gyeongsang Utara, Suwon di Provinsi Gyeonggi, dan Pulau Jeju termasuk daerah yang mengembangkan perjalanan berbasis kuliner lokal. Setiap wilayah dapat menonjolkan hidangan sekaligus pengalaman yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Pada akhirnya, pendekatan tersebut membuat kuliner memiliki fungsi yang lebih luas dalam industri pariwisata. Makanan tidak hanya menjadi kebutuhan selama perjalanan, tetapi juga menjadi alasan wisatawan memilih sebuah destinasi.
Bagi wisatawan Indonesia yang ingin menjelajahi sisi lain Korea Selatan, wisata kuliner Chuncheon dapat menghadirkan pengalaman yang menarik. Dakgalbi tetap menjadi daya tarik utama, sementara minuman tradisional, hasil pertanian, wisata alam, dan kreativitas pelaku usaha lokal melengkapi perjalanan. Melalui perpaduan tersebut, Chuncheon berupaya memperkuat posisinya sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis rasa dan budaya daerah.