Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) – menyiapkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 yang akan berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 9–12 Juli 2026. Perhelatan tahunan tersebut mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Pengrajin Mendunia”. Sebagai bentuk komitmen memperkuat industri kerajinan nasional melalui konsep keberlanjutan sekaligus memperluas peluang produk lokal di pasar internasional.
Melalui tema tersebut, Dekranas ingin mendorong para perajin agar tidak hanya menghasilkan karya yang bernilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Pendekatan ini di nilai semakin penting karena konsumen global kini semakin mempertimbangkan proses produksi yang ramah lingkungan ketika memilih suatu produk.
Dekranas Fokus pada Pengembangan Kerajinan Ramah Lingkungan
Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, menjelaskan bahwa sebagian besar kerajinan Indonesia memanfaatkan bahan baku yang berasal dari alam. Mulai dari serat alami, tanah liat, batu, hingga berbagai jenis mineral merupakan kekayaan lokal yang selama ini menjadi ciri khas produk kerajinan Nusantara.
Menurutnya, penggunaan material alami menjadi keunggulan yang perlu terus di pertahankan karena sejalan dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap isu keberlanjutan. Produk yang di buat dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan memiliki nilai tambah dan lebih mudah di terima oleh pasar internasional.
Selain menghasilkan produk yang berkualitas, para perajin juga di harapkan mampu memahami bahwa praktik produksi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan kini menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan global. Oleh sebab itu, keberlanjutan tidak lagi di pandang sebagai tren semata, melainkan kebutuhan dalam pengembangan industri kreatif.
Penggunaan Pewarna Alami Menjadi Salah Satu Prioritas
Sebagai bagian dari upaya mendukung produksi yang lebih ramah lingkungan. Dekranas mendorong para pengrajin memanfaatkan pewarna alami yang mudah di temukan di daerah masing-masing. Berbagai bahan lokal seperti daun jambu biji, kulit buah manggis, hingga kunyit di nilai dapat menjadi alternatif pengganti pewarna berbahan kimia.
Pemanfaatan bahan alami tersebut tidak hanya membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan. Tetapi juga mampu menekan biaya produksi karena tidak bergantung pada bahan impor. Dengan memaksimalkan sumber daya lokal, pengrajin memiliki kesempatan untuk menciptakan produk yang lebih kompetitif sekaligus mempertahankan karakter khas daerah asalnya.
Langkah ini juga di harapkan dapat memperkuat identitas kerajinan Indonesia yang selama ini di kenal kaya akan bahan baku alami dan teknik produksi tradisional.
Kurangi Penggunaan Plastik dalam Produk Kerajinan
Selain penggunaan pewarna alami, Dekranas juga mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama plastik.
Sebagai contoh, produk kebutuhan rumah tangga seperti tikar di anjurkan di buat menggunakan anyaman daun pandan atau material alami lainnya di bandingkan bahan sintetis. Meskipun produk berbahan alami memiliki usia pakai yang relatif lebih singkat, pendekatan tersebut di nilai lebih ramah lingkungan dan tetap memiliki nilai ekonomi yang baik.
Di sisi lain, biaya produksi kerajinan berbahan alami juga berpotensi lebih efisien karena memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan pengrajin. Hal ini sekaligus membuka peluang terciptanya rantai usaha baru berbasis bahan baku lokal.

Ilustrasi penenun Sumba Timur dalam riset Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur.
Limbah Produksi Didorong Memiliki Nilai Tambah
Dekranas tidak hanya menyoroti penggunaan bahan baku utama. Tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah atau sisa hasil produksi agar memiliki nilai ekonomi tambahan.
Misalnya, penggunaan kunyit sebagai pewarna alami dapat membuka peluang usaha lain berupa pengolahan bahan tersebut menjadi produk herbal atau minuman tradisional. Konsep ekonomi sirkular seperti ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM. Sekaligus mengurangi jumlah limbah yang di hasilkan selama proses produksi.
Karena itu, para pembina UMKM di harapkan aktif memberikan pendampingan agar pengrajin mampu mengembangkan inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.
Produk Berbasis Alam Semakin Diminati Pasar Internasional
Permintaan terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat, terutama di negara-negara maju. Konsumen di berbagai negara kini memberikan perhatian lebih terhadap asal bahan baku, proses produksi. Hingga dampak lingkungan dari suatu produk yang mereka beli.
Kerajinan Indonesia yang di buat menggunakan material alami di nilai memiliki keunggulan tersendiri karena menawarkan keaslian. Sekaligus nilai budaya yang sulit di temukan di negara lain. Salah satu contohnya adalah kain tenun tradisional yang di produksi secara manual menggunakan teknik turun-temurun.
Selain kualitas produknya, proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan tangan memberikan nilai artistik yang tinggi. Di pasar internasional, produk hasil karya tangan sering kali di hargai lebih mahal karena di anggap memiliki keunikan, nilai budaya. Serta cerita yang melekat di balik proses pembuatannya.
Faktor inilah yang diyakini menjadi kekuatan utama kerajinan Indonesia untuk bersaing di tingkat global. Dengan menggabungkan penggunaan bahan alami, teknik tradisional, serta narasi budaya yang kuat. Produk kerajinan nasional memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar dunia.
Dekranas Optimistis Kerajinan Indonesia Mampu Mendunia
Melalui peringatan HUT ke-46, Dekranas berharap semakin banyak pengrajin yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses produksinya. Penggunaan bahan ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal. Serta pengelolaan limbah yang lebih baik di yakini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia. Di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk berkelanjutan.
Dengan mengedepankan inovasi tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal. Industri kerajinan Indonesia di harapkan mampu memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu penghasil produk kriya berkualitas di tingkat internasional.