Banyuwangi – kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya melalui penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Festival yang telah menjadi agenda tahunan tersebut tidak hanya menghadirkan parade kostum kreatif, tetapi juga menyuguhkan kekayaan seni tradisional yang berpadu dengan konsep pertunjukan modern. Berkat perpaduan tersebut, BEC kembali menjadi magnet bagi masyarakat, wisatawan, hingga tamu dari berbagai negara.
Mengangkat tema Perang Bayu, penyelenggaraan tahun ini membawa pesan yang lebih dalam dibanding sekadar pertunjukan hiburan. Di balik setiap kostum dan penampilan tersimpan kisah sejarah tentang perjuangan masyarakat Blambangan dalam mempertahankan wilayahnya. Oleh sebab itu, BEC tidak hanya menjadi ajang promosi pariwisata, melainkan juga sarana edukasi mengenai nilai budaya dan sejarah daerah.
Kekayaan Tradisi Menjadi Pembuka Perayaan
Rangkaian acara dimulai dengan berbagai pertunjukan seni khas Banyuwangi yang berhasil menciptakan suasana penuh semangat. Beragam kesenian daerah tampil secara bergantian sehingga memperlihatkan identitas budaya masyarakat setempat yang masih terjaga hingga kini.
Kesenian Kuntulan Ewon menjadi salah satu penampilan pembuka yang kemudian disusul oleh Tari Seblang, Gandrung, Jaranan Buto, hingga atraksi barong. Seluruh pertunjukan tersebut dikemas dalam konsep yang megah sehingga mampu menarik perhatian ribuan penonton yang memenuhi sepanjang jalur parade.
Selanjutnya, nuansa tradisional berpadu dengan pertunjukan fashion carnival. Para peserta mengenakan kostum berukuran besar dengan detail artistik yang terinspirasi dari kekayaan budaya Banyuwangi. Meskipun menggunakan pendekatan desain modern, setiap karya tetap mempertahankan unsur lokal sebagai identitas utama.
Dengan demikian, penyelenggaraan BEC membuktikan bahwa budaya tradisional dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai perkembangan global seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat pelestarian budaya. Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan inovasi sebagai sarana memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi berikutnya sekaligus kepada masyarakat internasional.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, menilai Banyuwangi Ethno Carnival telah berkembang menjadi panggung budaya yang mampu memperlihatkan kekayaan tradisi daerah kepada dunia melalui pendekatan seni yang kreatif.
Perang Bayu Menjadi Inspirasi Utama Karnaval
Berbeda dari sekadar tema visual, Perang Bayu di pilih karena memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah Banyuwangi. Peristiwa tersebut di kenang sebagai salah satu bentuk perlawanan masyarakat Blambangan terhadap kekuatan kolonial yang berusaha menguasai wilayah mereka.
Melalui konsep tersebut, penyelenggara ingin menghadirkan kembali semangat perjuangan yang pernah di tunjukkan oleh para pendahulu. Oleh karena itu, setiap kostum di rancang tidak hanya menonjolkan keindahan, tetapi juga menyampaikan makna tentang keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing Banyuwangi, Wiwin Indiarti, menjelaskan bahwa nilai perjuangan dalam Perang Bayu masih relevan untuk di kenalkan kepada masyarakat saat ini. Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah daerah agar memiliki kesadaran untuk menjaga budaya sekaligus lingkungan tempat mereka hidup.
Selain itu, kisah perjuangan para tokoh Blambangan di nilai mampu menjadi inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini. Dengan memanfaatkan media seni seperti BEC, penyampaian pesan sejarah dapat di terima dengan lebih menarik oleh masyarakat luas.

Banyuwangi Ethno Carnival 2026
Parade Kostum Memikat Ribuan Penonton
Salah satu daya tarik utama Banyuwangi Ethno Carnival 2026 adalah parade kostum yang melibatkan lebih dari seratus peserta. Mereka menampilkan karya-karya kreatif dengan sentuhan artistik yang menggambarkan semangat Perang Bayu melalui berbagai bentuk, warna, serta ornamen khas.
Parade berlangsung di sepanjang rute sekitar dua kilometer yang menghubungkan Taman Blambangan dengan Jalan Ahmad Yani. Sepanjang perjalanan, ribuan masyarakat terlihat memadati area untuk menyaksikan langsung penampilan para peserta yang tampil penuh percaya diri.
Tidak hanya menarik perhatian wisatawan domestik, penyelenggaraan BEC juga di hadiri sejumlah tokoh nasional. Beberapa pejabat pemerintah pusat, perwakilan kementerian, anggota DPR RI, pimpinan BUMN, hingga tamu undangan dari berbagai lembaga turut hadir menyaksikan festival budaya tersebut.
Di sisi lain, acara ini juga memperoleh perhatian dari komunitas internasional. Delegasi dari negara-negara ASEAN, East Asia Summit (EAS), serta Pacific Islands Forum (PIF) turut menghadiri perhelatan tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Banyuwangi Ethno Carnival semakin di kenal sebagai salah satu festival budaya Indonesia yang memiliki daya tarik di tingkat global.
Kesimpulan
Banyuwangi Ethno Carnival 2026 kembali memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kreativitas modern. Melalui perpaduan seni tradisional, parade kostum, dan tema sejarah Perang Bayu, festival ini menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai edukatif.
Lebih dari itu, penyelenggaraan BEC menjadi bukti bahwa identitas lokal dapat terus di pertahankan di tengah perkembangan zaman. Oleh karena itu, festival ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada masyarakat nasional maupun internasional sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.