Karhutla Kalimantan Barat menghadirkan tantangan berat bagi tim pemadam kebakaran asal Jepang yang membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap yang semakin tebal pada Kamis (17/9/2026) membuat jarak pandang turun drastis. Kondisi tersebut akhirnya memaksa tim Jepang menghentikan seluruh penerbangan untuk operasi pemadaman dari udara.

Pasukan Bela Diri Jepang sebelumnya menyiapkan helikopter untuk melakukan water-bombing atau menjatuhkan air dari udara ke kawasan yang terbakar. Namun, kru membutuhkan jarak pandang yang memadai agar dapat menerbangkan helikopter secara aman sekaligus menentukan lokasi penyiraman secara akurat.

Pada Kamis, jarak pandang di wilayah operasi berada di bawah tiga kilometer. Situasi itu membuat tim tidak dapat menjalankan penerbangan sesuai rencana.

Kabut Asap Menghambat Operasi Helikopter Jepang

Petugas humas misi Jepang, Takeshi Koga, menjelaskan bahwa persoalan cuaca telah menghambat tim sejak mereka tiba di Indonesia. Tim awalnya merencanakan operasi penyiraman pada Minggu (13/9/2026).

Namun, kabut asap menurunkan jarak pandang sehingga kru tidak bisa menerbangkan helikopter. Tim kemudian menggeser jadwal operasi ke Rabu (16/9/2026). Kondisi udara ternyata belum cukup mendukung pelaksanaan misi.

Situasi kembali memburuk pada Kamis. Akibatnya, tim Jepang membatalkan seluruh penerbangan pada hari tersebut.

Jepang mengirim sekitar 350 personel Pasukan Bela Diri ke Kalimantan Barat untuk mendukung penanganan kebakaran. Mereka juga membawa tiga helikopter yang dapat membantu proses pemadaman melalui udara.

Kehadiran bantuan tersebut memiliki peran penting karena petugas menghadapi titik kebakaran yang tersebar di berbagai wilayah. Helikopter dapat menjangkau kawasan yang sulit petugas darat akses secara cepat. Akan tetapi, kabut asap justru membatasi kemampuan pesawat untuk mendekati lokasi kebakaran.

Karhutla Kalimantan Barat Berlangsung di Tengah Kebakaran Luas

Persoalan kebakaran tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat. Sejumlah kawasan di Kalimantan dan Sumatera telah menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama beberapa pekan.

Asap dari kebakaran kemudian menyebar ke wilayah yang lebih luas. Selain menurunkan kualitas udara di sejumlah daerah Indonesia, kabut asap juga mencapai beberapa negara di Asia Tenggara.

Malaysia, Brunei, Singapura, dan Filipina termasuk negara yang menghadapi dampak asap lintas batas tersebut. Ada pula dugaan bahwa asap mencapai Vietnam.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dalam skala besar dapat menimbulkan dampak jauh melampaui lokasi munculnya api. Angin dapat membawa partikel asap ke wilayah lain sehingga masalah kualitas udara berkembang menjadi persoalan regional.

Karhutla Kalimantan Barat

Pengemudi sepeda motor dan mobil menyalakan lampu utama saat melintasi jalan yang diselimuti kabut asap pekat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 20 Agustus 2026.

Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran

Indonesia kerap menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan selama periode kemarau, terutama antara Juli hingga Oktober. Curah hujan yang rendah membuat vegetasi serta lapisan tanah lebih mudah kehilangan kelembapan.

Pada 2026, beberapa faktor turut memperberat kondisi tersebut. Fenomena El Nino ikut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemarau yang lebih kering. Prediksi menyebut fenomena iklim tersebut berpotensi menjadi salah satu El Nino terkuat dalam sekitar empat dekade terakhir.

Selain faktor iklim, para ahli juga menyoroti perubahan kondisi lingkungan dalam jangka panjang. Perubahan iklim, degradasi hutan selama puluhan tahun, serta pembukaan lahan dengan pembakaran dapat meningkatkan kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran.

Ketika lahan kehilangan kemampuan alami untuk mempertahankan kelembapan, api berpeluang menyebar lebih cepat pada musim kering. Situasi akan semakin sulit ketika kebakaran menghasilkan asap pekat yang mengganggu operasi pemadaman dari udara.

Luas Lahan Terbakar Capai Ratusan Ribu Hektare

Data pemerintah mencatat kebakaran telah menghanguskan lebih dari 202.000 hektare lahan di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Sementara itu, pemantauan Nusantara Atlas menghasilkan estimasi yang lebih tinggi. Proyek tersebut mencatat luas area kebakaran mendekati 300.000 hektare untuk periode yang sama.

Perbedaan angka dapat muncul karena setiap lembaga menggunakan metode pemantauan, sumber data, dan penghitungan yang berbeda. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sesuai metode masing-masing sumber.

Nusantara Atlas selanjutnya memperkirakan luas lahan yang terdampak kebakaran hingga Agustus 2026 telah mendekati 896.000 hektare.

Besarnya area terdampak menggambarkan skala tantangan yang harus petugas hadapi. Tim pemadam tidak hanya perlu menghentikan penyebaran api, tetapi juga harus berhadapan dengan medan sulit, kondisi cuaca kering, serta kabut asap yang dapat membatasi mobilitas.

Pemadaman Karhutla Menghadapi Tantangan Besar

Hambatan yang dialami tim Jepang menunjukkan hubungan erat antara kondisi udara dan efektivitas pemadaman. Helikopter membutuhkan visibilitas yang aman agar kru dapat mengendalikan penerbangan sekaligus menjatuhkan air pada sasaran yang tepat.

Ketika asap menutup pandangan, tim harus mempertimbangkan keselamatan awak sebelum melanjutkan misi. Karena itu, perbaikan jarak pandang menjadi faktor penting sebelum operasi udara dapat kembali berjalan secara optimal.

Sementara pemadaman terus berlangsung, karhutla Kalimantan Barat masih membutuhkan penanganan intensif. Dukungan personel dan helikopter dari Jepang menambah sumber daya dalam upaya pengendalian kebakaran. Namun, kondisi cuaca dan ketebalan asap akan sangat menentukan kelancaran operasi pemadaman dari udara dalam beberapa waktu mendatang.