Restorasi Candi Prambanan masih membutuhkan perjalanan panjang sebelum seluruh bagian kompleks tersebut dapat kembali berdiri. Persoalan paling mendasar muncul pada ketersediaan batu peninggalan bangunan lama. Pada banyak titik candi perwara, material yang masih tersedia hanya mencapai sekitar 10 sampai 30 persen.

Situasi itu membuat pemerintah tidak dapat menjalankan pemulihan hanya dengan menyusun kembali batu yang berada di lokasi. Pemerintah perlu menentukan pendekatan yang sesuai agar pekerjaan tetap menjaga karakter peninggalan bersejarah tersebut.

Kementerian Kebudayaan kini menyiapkan pembahasan untuk menentukan langkah selanjutnya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut pemerintah membutuhkan kontribusi para pakar karena rencana tersebut mencakup pemulihan kompleks dalam skala besar.

Selain persoalan material, jumlah bangunan yang belum kembali berdiri juga menunjukkan besarnya pekerjaan yang menanti. Kompleks Prambanan mempunyai ratusan candi perwara, sedangkan pemugaran sejauh ini baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhannya.

Enam Candi Menjadi Gambaran Hasil Pemugaran

Catatan arkeologis mencantumkan 224 candi perwara di kompleks Prambanan. Bangunan-bangunan tersebut menjadi bagian dari susunan kawasan yang mengitari Candi Siwa, Brahma, serta Wisnu.

Namun, hingga sekarang, proses pemugaran baru berhasil mengembalikan enam candi perwara. Artinya, sebanyak 218 bangunan lainnya belum menjalani rekonstruksi atau masih berupa reruntuhan.

Enam candi yang sudah kembali berdiri mempunyai ketinggian sekitar 14 meter. Hasil pekerjaan tersebut memberikan rujukan teknis bagi rencana penanganan bangunan lain pada masa mendatang.

Pemerintah menghadapi persoalan berbeda ketika beralih ke ratusan candi yang tersisa. Batu penyusun bangunan lama tidak lagi terkumpul secara lengkap pada masing-masing lokasi. Perkiraan saat ini menunjukkan bahwa setiap titik hanya memiliki sekitar sepersepuluh hingga kurang dari sepertiga material aslinya.

Kondisi itulah yang membuat rencana pemulihan seluruh kompleks membutuhkan kajian lebih luas daripada sekadar pekerjaan konstruksi.

Restorasi Candi Prambanan

Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narendra Modi saat mengunjungi Candi Prambanan pada Rabu (8/7/2027). Upaya merestorasi Candi Prambanan menghadapi tantangan besar, terutama soal keterbatasan material batu asli yang tersisa 10-30 persen.

Para Pakar Akan Menentukan Pendekatan Pemulihan

Pemerintah memilih untuk memperkuat kajian sebelum menjalankan pekerjaan dalam cakupan besar. Kementerian Kebudayaan melibatkan keahlian dari beberapa disiplin agar setiap keputusan mempertimbangkan kondisi bangunan sekaligus nilai peninggalannya.

Bidang konservasi akan menjadi salah satu unsur penting dalam pembahasan tersebut. Selain itu, pemerintah membutuhkan pandangan arkeolog serta ahli teknik struktur untuk mengkaji kebutuhan penanganan bangunan.

Kolaborasi antardisiplin tersebut menjadi penting karena kompleks Prambanan mempunyai nilai yang melampaui bentuk fisiknya. Kawasan ini membawa jejak sejarah dan kebudayaan yang telah bertahan sejak berabad-abad lalu. Prambanan juga memiliki dimensi diplomatik dalam rencana pelestariannya saat ini.

Karena alasan tersebut, pemerintah perlu menyesuaikan rencana pembangunan kembali dengan kebutuhan menjaga nilai warisan yang melekat pada kawasan.

Dukungan India Masuk dalam Rencana Pengembangan

Indonesia juga membuka kerja sama dengan negara lain dalam agenda pemulihan Prambanan. India menjadi salah satu pihak yang menunjukkan dukungan terhadap program tersebut.

Rencana yang sedang pemerintah pelajari mencakup bantuan untuk menangani satu kuadran kawasan perwara. Luasan itu setara dengan sekitar seperempat bagian area yang menjadi sasaran pemugaran.

Hubungan kerja sama tersebut sebelumnya mendapat perhatian ketika Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi datang ke kawasan Prambanan pada Juli 2026.

Pemerintah Indonesia kemudian menempatkan Prambanan bersama Candi Sewu dalam agenda pemulihan dan revitalisasi yang lebih luas. Kedua kompleks tersebut merupakan peninggalan monumental dari abad ke-9 M.

Melalui agenda itu, pemerintah ingin menjaga warisan masa lampau sekaligus mempertahankan keterhubungannya dengan kehidupan masyarakat masa kini. Dengan kata lain, pemulihan tidak berhenti pada upaya menghadirkan kembali bentuk arsitektur.

Prambanan Diarahkan Tetap Hidup sebagai Ruang Budaya

Pemerintah juga mempertimbangkan manfaat jangka panjang yang dapat muncul setelah proses pemulihan berjalan. Salah satu sasaran yang ingin pemerintah dorong ialah semakin kuatnya aktivitas pariwisata berbasis kebudayaan.

Fadli Zon menilai kawasan Prambanan memiliki potensi untuk menjangkau wisatawan dengan beragam ketertarikan. Pengunjung dapat datang karena ingin mengenal sejarah, kebudayaan, maupun aspek religi yang berkaitan dengan kawasan tersebut.

Pemerintah berharap daya tarik itu dapat menjangkau wisatawan dalam negeri sekaligus pengunjung internasional. Oleh karena itu, revitalisasi kawasan memiliki hubungan erat dengan upaya mempertahankan Prambanan sebagai warisan yang terus memiliki fungsi dalam kehidupan sekarang.

Namun, pekerjaan besar masih menanti sebelum rencana tersebut terwujud. Sebanyak 218 candi perwara belum kembali berdiri, sementara jumlah material lama pada banyak titik sangat terbatas.

Kondisi tersebut membuat kajian para ahli menjadi tahap krusial. Pemerintah harus mencari pendekatan yang mampu menjawab keterbatasan material tanpa mengabaikan nilai sejarah kompleks Prambanan.

Dengan demikian, agenda pemulihan Prambanan bukan sekadar proyek untuk menyusun kembali ratusan bangunan. Pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga jejak peninggalan abad ke-9 sekaligus menentukan cara agar kawasan tersebut tetap relevan sebagai ruang sejarah, kebudayaan, dan pariwisata.