Aktivitas – Belanja pemerintah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026. Peningkatan pengeluaran negara membantu menjaga aktivitas konsumsi domestik, memperkuat daya beli masyarakat, dan mendorong perputaran ekonomi selama momentum Ramadan dan Idul Fitri.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai belanja pemerintah masih berpotensi menjadi penopang ekonomi pada triwulan berikutnya. Namun, ia memperkirakan laju pertumbuhan tidak akan setinggi pencapaian pada awal tahun.
Menurut Josua, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dorongan belanja pemerintah kemungkinan melambat pada triwulan II dan III 2026. Salah satu penyebab utama berasal dari efek dasar rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, percepatan realisasi anggaran, pembayaran tunjangan hari raya, serta tingginya konsumsi selama Ramadan dan Lebaran turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.
Ketika momentum musiman tersebut berakhir, laju konsumsi biasanya kembali normal sehingga efek dorong terhadap ekonomi ikut menurun.
Tekanan Fiskal Jadi Tantangan Pemerintah
Josua menjelaskan bahwa pemerintah juga menghadapi tantangan fiskal yang semakin besar. Belanja negara tumbuh cukup tinggi, sementara kebutuhan pembiayaan terus meningkat di tengah tekanan eksternal global.
Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga energi dunia ikut memperberat kondisi fiskal nasional. Situasi tersebut membuat pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara belanja produktif dan stabilitas anggaran negara.
Ia menilai peningkatan pengeluaran negara secara terus-menerus tanpa perbaikan penerimaan dan efisiensi dapat memicu kekhawatiran pasar. Risiko defisit anggaran yang melebar berpotensi meningkatkan tekanan terhadap imbal hasil Surat Berharga Negara atau SBN serta nilai tukar rupiah.
Karena itu, Josua menegaskan bahwa belanja pemerintah memang tetap penting sebagai penopang ekonomi, tetapi pemerintah tidak bisa menjadikannya sebagai satu-satunya sumber pertumbuhan nasional.
Efek Pengganda Belanja Bergantung pada Kualitas Program
Selain jumlah belanja, kualitas pengeluaran pemerintah juga memegang peranan penting dalam menentukan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Josua menilai tidak semua jenis belanja mampu menciptakan efek pengganda atau multiplier effect yang besar.
Belanja yang paling efektif biasanya masuk ke sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur dasar, penguatan layanan kesehatan, peningkatan kualitas pendidikan, serta percepatan distribusi pangan. Program yang melibatkan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok lokal juga mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Ketika pemerintah mengalokasikan anggaran ke sektor produktif, aktivitas ekonomi dapat tumbuh lebih berkelanjutan karena kapasitas produksi nasional ikut meningkat. Kondisi tersebut juga membantu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Sebaliknya, belanja yang hanya mendorong konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat kapasitas produksi nasional cenderung memberikan dampak sementara. Situasi tersebut bahkan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memperbesar ketergantungan terhadap produk impor.

Ekonom Permata Bank menilai belanja pemerintah masih mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Impor yang Tinggi Perlu Menjadi Perhatian
Josua juga menyoroti tingginya pertumbuhan impor pada triwulan I 2026. Data menunjukkan impor tumbuh 7,18 persen secara tahunan, sedangkan ekspor hanya meningkat 0,90 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian permintaan domestik masih banyak dipenuhi produk luar negeri. Jika situasi ini terus berlangsung, manfaat pertumbuhan ekonomi nasional akan lebih banyak dinikmati pelaku usaha di luar negeri dibanding industri domestik.
Peningkatan impor bahan baku, barang modal, hingga komoditas energi memang membantu menjaga aktivitas produksi nasional. Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap impor dapat mengurangi efek pengganda dari belanja pemerintah di dalam negeri.
Menurut Josua, dampak ekonomi akan jauh lebih besar apabila belanja negara mampu menyerap produk domestik dan memperkuat industri nasional. Dengan begitu, perputaran uang tetap berada di dalam negeri dan mendorong pertumbuhan sektor usaha lokal.
Realisasi Belanja Negara Tumbuh Signifikan
Data dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan menunjukkan realisasi belanja negara pada triwulan I 2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen di banding periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp610,3 triliun dan transfer ke daerah senilai Rp204,8 triliun. Peningkatan pengeluaran tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong aktivitas ekonomi nasional pada awal tahun.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pengeluaran konsumsi pemerintah dalam Produk Domestik Bruto atau PDB tumbuh 21,81 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Angka tersebut menunjukkan peran besar pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan tekanan eksternal yang masih berlangsung.
Pemerintah Perlu Jaga Keseimbangan Pertumbuhan
Ke depan, pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil tanpa menambah tekanan fiskal yang berlebihan. Strategi belanja yang tepat sasaran menjadi kunci utama agar anggaran negara mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Belanja produktif yang memperkuat sektor domestik dinilai lebih efektif di banding pengeluaran konsumtif jangka pendek. Dengan memperbesar penggunaan produk lokal dan meningkatkan efisiensi anggaran, pemerintah dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.