Karhutla Di Indonesia masih melanda sejumlah wilayah dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, satwa liar, hingga aktivitas transportasi. Kebakaran hutan dan lahan juga menghasilkan kabut asap yang menyebar melampaui lokasi titik api. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mencatat perkembangan kebakaran sekaligus meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau yang berlangsung bersama kondisi El Nino.
BNPB mencatat sejumlah kejadian karhutla dalam periode 24 jam hingga Kamis (3/9/2026) pukul 07.00 WIB. Kebakaran muncul di berbagai wilayah, mulai dari Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar. Selain itu, masyarakat perlu berhati-hati ketika mengelola sampah agar aktivitas tersebut tidak memicu kebakaran baru.
BNPB juga meminta warga segera menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) apabila menemukan titik api. Langkah cepat masyarakat dapat membantu petugas mencegah kebakaran berkembang semakin luas, terutama di daerah yang menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla.
Titik Api Tersebar di Enam Provinsi Prioritas
Kondisi karhutla di Indonesia terlihat dari banyaknya titik api yang muncul di sejumlah provinsi prioritas. Kalimantan Barat mencatat 46 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 528 hektar. Tim penanganan berhasil memadamkan kebakaran pada area seluas lebih dari 354 hektar. Namun, kualitas udara masih berada pada tingkat berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.
Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 72 titik api yang membakar sekitar 739 hektar lahan. Tim pemadam berhasil menangani lebih dari 459 hektar dari total area tersebut.
Kalimantan Selatan juga menghadapi 31 titik api dengan luas kebakaran mencapai 551 hektar. Petugas telah memadamkan api pada sekitar 103 hektar lahan.
Selanjutnya, Riau mencatat enam titik api yang membakar sekitar 159 hektar. Tim berhasil menangani 39 hektar area kebakaran. Di wilayah tersebut, kualitas udara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, sedangkan jarak pandang masih mencapai lebih dari sembilan kilometer.
Jambi mencatat tujuh titik api dengan area kebakaran sekitar 18,5 hektar. Petugas berhasil memadamkan sekitar 15,5 hektar. Adapun Sumatera Selatan mencatat 20 titik api dengan luas kebakaran 98,5 hektar dan area yang berhasil petugas padamkan mencapai 26,5 hektar. Kualitas udara di Sumatera Selatan masuk kategori sedang hingga tidak sehat dengan jarak pandang sekitar lima sampai tujuh kilometer.
Kasus ISPA Mencapai 50.891
Dampak kabut asap tidak hanya muncul di sekitar lokasi kebakaran. Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah terdampak karhutla selama Juli hingga Agustus 2026.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni menjelaskan bahwa anak-anak juga menghadapi risiko besar. Dari total kasus tersebut, sebanyak 12.600 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun, sedangkan kelompok usia di atas lima tahun mencatat 38.291 kasus.
Asap karhutla yang terbawa angin dapat menjangkau wilayah tanpa titik api. Karena itu, peningkatan kasus gangguan pernapasan tidak hanya terjadi di daerah dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tinggi atau lokasi kebakaran.
Kota Padang, Sumatera Barat, misalnya, mencatat peningkatan kasus ISPA setelah kualitas udara menurun. Kepala Dinas Kesehatan Padang Srikurnia Yati mengatakan data fasilitas pelayanan kesehatan menunjukkan kenaikan kasus dibandingkan minggu sebelum penurunan kualitas udara terjadi.
Luas Karhutla Tembus 202.010,96 Hektar
Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.010,96 hektar. Pemerintah belum memasukkan data Agustus karena tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup masih menghitungnya.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menyoroti besarnya kerusakan ekologis akibat kebakaran. Dalam proses pemadaman, petugas menemukan satwa yang mati serta habitat dan ekosistem yang mengalami kerusakan.
Selain merusak lingkungan, karhutla juga menimbulkan dampak sosial. Kabut asap mengganggu kesehatan dan pendidikan masyarakat serta dapat menghambat proses pembangunan di daerah terdampak.

Foto udara asap membubung di lahan gambut yang terbakar di Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi, Kamis (3/9/2026). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berlangsung selama 20 hari lebih di wilayah itu terus meluas hingga mencapai hampir 100 hektare, sementara upaya pemadaman dari tim gabungan masih terus dilakukan meski dengan keterbatasan sumber air.
Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Pontianak
Dampak karhutla di Indonesia juga menjangkau sektor transportasi. Kabut asap tebal mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
Seorang penumpang asal Jakarta bernama Ryan mengaku terkejut ketika melihat tebalnya asap di Pontianak. Kabut asap juga membuat jadwal penerbangannya mengalami penundaan. Kondisi jarak pandang yang tidak normal menjadi salah satu persoalan bagi operasional penerbangan.
Kabut asap yang menyelimuti kawasan bandara menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada area hutan atau lahan yang terbakar. Kebakaran dapat memengaruhi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi ketika asap menyebar ke pusat transportasi.
Satwa Liar Ikut Menjadi Korban Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan juga mengancam kehidupan satwa. Petugas Manggala Agni menemukan tiga ekor ular dalam kondisi hangus di lahan Desa Kuala Dua, Sungai Raya, Kubu Raya. Petugas menemukan bangkai satwa tersebut ketika melakukan proses pendinginan di kawasan yang sebelumnya terbakar.
Ancaman serupa menghadang orangutan. Di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, petugas menyelamatkan induk dan anak orangutan bernama Raya dan Rayu dari lingkungan terdampak.
Api juga berpotensi menjalar menuju Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan di Berau, Kalimantan Timur. Kawasan tersebut berfungsi sebagai pusat rehabilitasi orangutan, sementara abu kebakaran sudah memasuki kandang.
Di Ketapang, Kalimantan Barat, petugas telah mengevakuasi enam orangutan setelah satwa tersebut keluar dari habitat dan memasuki kawasan perkebunan. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga memaksa satwa liar meninggalkan habitatnya.
Pemerintah Jalankan Lima Strategi Penanganan Karhutla
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan lima strategi yang perlu pemerintah jalankan secara bersamaan untuk menangani karhutla.
Pertama, pemerintah menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Strategi tersebut tidak hanya menyasar daerah yang sudah mengalami kebakaran. Pemerintah juga dapat menjalankan OMC di wilayah lain untuk mencegah munculnya titik api ketika tersedia potensi awan hujan yang memungkinkan proses penyemaian.
Kedua, pemerintah mengandalkan water bombing menggunakan pesawat atau helikopter untuk membantu memadamkan kebakaran dari udara.
Ketiga, pemerintah mengoptimalkan Satuan Tugas Darat yang melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, kelompok Masyarakat Peduli Api, relawan, dan warga setempat. Kolaborasi tersebut berperan penting dalam menjangkau titik kebakaran secara langsung.
Keempat, pemerintah memperkuat penegakan hukum. Kementerian Kehutanan telah memberikan sanksi kepada enam perusahaan di Kalimantan serta membekukan izin lima perusahaan. Penegakan hukum bertujuan mencegah individu maupun perusahaan melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
Kelima, pemerintah mendorong kesadaran masyarakat. Raja Juli Antoni menilai strategi penanganan karhutla tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan publik.
Karena itu, masyarakat perlu menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok tanpa memastikan apinya padam, atau membersihkan kebun dengan cara membakar.
Upaya mengendalikan karhutla di Indonesia membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat, pelaku usaha, relawan, dan masyarakat. Pencegahan sejak dini menjadi langkah penting karena kebakaran yang meluas tidak hanya menghancurkan lahan, tetapi juga mengancam kesehatan manusia, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan merusak habitat satwa liar.