Uji Jalan BAIC T1 dari Tangerang menuju Bandung memberikan kesempatan untuk mengenal karakter mobil listrik ini dalam kondisi perjalanan yang beragam. Rute luar kota menghadirkan jalan tol mulus, sambungan beton MBZ, perubahan elevasi, hingga lalu lintas perkotaan. Berbagai kondisi tersebut sekaligus menguji kenyamanan, kestabilan, fitur keselamatan, dan efisiensi energi T1.

BAIC menghadirkan T1 sebagai mobil listrik murni pertamanya di Indonesia. Dalam perjalanan dari Alam Sutera, Tangerang, menuju Bandung, mobil ini menunjukkan beberapa keunggulan yang cukup menarik. Suspensi nyaman dan teknologi bantuan pengemudi menjadi dua aspek yang menonjol. Meski begitu, perjalanan jarak jauh juga memperlihatkan sejumlah karakter yang perlu menjadi perhatian calon pengguna.

Suspensi BAIC T1 Nyaman untuk Perjalanan Jauh

Kenyamanan suspensi menjadi salah satu kesan utama selama mengendarai BAIC T1. Setelan suspensi yang cenderung lembut mampu menjaga kenyamanan ketika mobil melewati berbagai karakter permukaan jalan.

Kemampuan tersebut semakin terasa saat T1 memasuki jalur MBZ. Banyak sambungan beton pada ruas ini menghasilkan getaran yang cukup terasa pada beberapa kendaraan. Namun, T1 mampu meredam sebagian besar guncangan dengan baik.

Mobil terasa nyaman saat melaju pada kisaran 80 hingga 100 km per jam. Suspensi memberikan bantingan lembut sehingga perjalanan jarak jauh tidak terasa terlalu melelahkan. Hanya saja, jok memiliki karakter yang sedikit kaku.

Setelan suspensi lembut tersebut juga membawa konsekuensi ketika pengemudi meningkatkan kecepatan. Saat mobil melaju melewati 100 km per jam, bodi mulai menunjukkan gejala limbung. Kondisi tersebut semakin terasa ketika pengemudi berpindah jalur atau melakukan manuver pada kecepatan tinggi.

Karena itu, pengemudi perlu menjaga kontrol mobil secara lebih halus ketika melaju cepat.

Posisi Bangku Belakang Masih Menjadi Catatan

Selain karakter suspensi, kenyamanan penumpang belakang juga perlu mendapat perhatian. BAIC T1 menempatkan bangku baris kedua dalam posisi yang relatif rendah.

Posisi tersebut membuat kaki penumpang tidak mendapatkan sudut duduk yang paling ideal. Dalam perjalanan singkat, kondisi ini mungkin tidak terlalu mengganggu. Namun, penumpang berpotensi lebih cepat merasa lelah ketika menempuh perjalanan antarkota.

Sementara itu, BAIC menghadirkan nuansa modern pada bagian kabin. Pabrikan menggunakan desain minimalis dengan dominasi layar digital dan hanya menyediakan sedikit tombol fisik.

Pendekatan tersebut membuat interior terlihat bersih dan modern. Pengguna juga dapat mempelajari berbagai menu dengan cukup mudah setelah beradaptasi.

Namun, ketergantungan terhadap layar sentuh membawa kekurangan tersendiri. Pengemudi perlu melihat layar untuk mengakses beberapa fungsi dasar. Situasi tersebut dapat mengurangi kepraktisan, khususnya bagi pengguna yang baru pertama kali mengendarai T1.

Uji Jalan BAIC T1

Test drive BAIC T1 di rute Tangerang-Bandung.

ADAS Level 2 Menawarkan Beragam Fitur Bantuan

BAIC membekali T1 dengan 12 fungsi Advanced Driver Assistance System atau ADAS Level 2. Paket tersebut memberikan berbagai bantuan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan selama perjalanan.

Automatic Parking Assist atau APA menjadi salah satu fitur yang menarik. Sistem ini dapat mendeteksi ruang parkir dan mengendalikan proses parkir secara otomatis.

Ketika fitur bekerja, pengemudi tidak perlu mengendalikan setir ataupun mengoperasikan pedal. Sistem mampu menjalankan proses parkir dengan baik selama pengujian.

APA juga dapat mengenali objek yang melintas di sekitar kendaraan. Ketika sistem menemukan hambatan, mobil akan menghentikan proses parkir. Pengemudi kemudian dapat mengaktifkan kembali sistem untuk melanjutkan manuver setelah kondisi aman.

BAIC T1 juga memiliki Automatic Emergency Braking atau AEB. Namun, pengemudi tidak dapat mematikan fitur tersebut.

Karakter ini perlu mendapat perhatian ketika mobil menghadapi lalu lintas Indonesia yang dinamis. Sepeda motor atau kendaraan lain terkadang berpindah jalur secara tiba-tiba.

Dalam kondisi tertentu, AEB dapat merespons objek di depan dengan melakukan pengereman otomatis. Pengemudi tetap perlu mengantisipasi kondisi sekitar agar respons sistem tidak menimbulkan situasi yang kurang nyaman bagi kendaraan di belakang.

Konsumsi Listrik BAIC T1 Tangerang-Bandung

Uji jalan BAIC T1 juga memberikan gambaran mengenai konsumsi energi dalam penggunaan nyata. Mobil ini menggunakan baterai lithium ferro phosphate atau LFP berkapasitas 42,3 kWh dari CALB.

BAIC mencantumkan jarak tempuh hingga 425 kilometer berdasarkan standar CLTC. Sementara itu, pengujian dengan standar WLTC menghasilkan klaim jarak tempuh sekitar 310 kilometer.

Kondisi jalan nyata tentu dapat menghasilkan angka berbeda karena kecepatan, kemacetan, elevasi, gaya berkendara, dan penggunaan fitur kendaraan memengaruhi konsumsi energi.

Perjalanan dari Alam Sutera menuju Bandung menempuh jarak sekitar 199 kilometer. Mobil memulai perjalanan dengan kapasitas baterai sekitar 95 persen.

Setelah tiba di Bandung, indikator menunjukkan baterai tersisa 23 persen. MID mencatat konsumsi listrik sekitar 16,5 kWh per 100 kilometer.

Hasil berbeda muncul dalam perjalanan kembali dari Bandung menuju Tangerang. Mobil memulai perjalanan dengan baterai 96 persen dan menyisakan sekitar 42 persen setelah menempuh jarak 195 kilometer.

Pada perjalanan tersebut, MID menunjukkan konsumsi listrik sekitar 11,6 kWh per 100 kilometer.

Rute Menurun Membantu Meningkatkan Efisiensi

Perbedaan konsumsi antara perjalanan pergi dan pulang menunjukkan pengaruh kondisi rute terhadap mobil listrik. Jalur Bandung menuju Tangerang memiliki lebih banyak bagian menurun sehingga mobil dapat menggunakan energi dengan lebih efisien.

Hasil 11,6 hingga 16,5 kWh per 100 kilometer memberikan gambaran konsumsi yang lebih relevan untuk penggunaan nyata. T1 mampu menghasilkan efisiensi yang baik ketika kondisi jalan mendukung. Sebaliknya, kebutuhan energi meningkat ketika mobil menghadapi rute yang lebih berat.

Jika menggunakan kapasitas baterai 42,3 kWh sebagai dasar perhitungan teoritis, konsumsi 11,6 kWh per 100 kilometer setara dengan jarak sekitar 364 kilometer.

Sementara itu, konsumsi 16,5 kWh per 100 kilometer menghasilkan perkiraan sekitar 256 kilometer. Perhitungan tersebut hanya bersifat teoritis karena kondisi penggunaan nyata dapat menghasilkan jarak berbeda.

Kesimpulan Uji Jalan BAIC T1

Perjalanan Tangerang-Bandung menunjukkan BAIC T1 sebagai mobil listrik yang mengutamakan kenyamanan dan menawarkan efisiensi energi menarik. Suspensi lembut memberikan pengalaman berkendara yang menyenangkan ketika mobil melaju pada kecepatan normal di jalan tol.

Paket ADAS Level 2 turut menambah daya tariknya. Automatic Parking Assist mampu membantu pengemudi melakukan parkir dengan praktis. Kabin modern dan penggunaan material yang baik juga memperkuat kesan positif dari mobil listrik tersebut.

Meski demikian, calon pengguna perlu mempertimbangkan beberapa kekurangan. Bodi terasa lebih limbung ketika kecepatan meningkat. Posisi bangku belakang juga belum memberikan postur kaki yang optimal untuk perjalanan panjang.

Selain itu, banyak fungsi bergantung pada layar sentuh sehingga pengemudi membutuhkan waktu untuk beradaptasi. AEB yang selalu aktif juga menuntut perhatian ketika menghadapi lalu lintas padat dengan pergerakan kendaraan yang sulit diprediksi.

Secara keseluruhan, BAIC T1 menunjukkan kemampuan yang cukup meyakinkan untuk perjalanan antarkota. Mobil ini menawarkan suspensi nyaman, teknologi bantuan berkendara lengkap, dan konsumsi energi yang dapat mencapai tingkat efisien. Namun, karakter pengendalian pada kecepatan tinggi serta ergonomi baris kedua tetap menjadi aspek yang patut dipertimbangkan sebelum memilihnya sebagai kendaraan harian.