Gamelan Kyai Sekati Keraton Solo kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian tradisi Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Keraton Solo membawa dua perangkat gamelan pusaka menuju Masjid Agung Solo pada Rabu, 19 Agustus 2026. Para abdi dalem mengangkat perangkat tersebut dari Sasana Handrawina sebelum membawanya melewati kawasan keraton.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin langsung prosesi tersebut. Dua perangkat yang mengikuti kirab itu ialah Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.
Rombongan membawa kedua gamelan melalui Kori Kamandungan. Selanjutnya, para abdi dalem menuju Sitihinggil dan melintasi Alun-alun Utara sebelum mencapai kompleks Masjid Agung Solo.
Prosesi tersebut sekaligus menandai dimulainya salah satu rangkaian utama Sekaten. Tradisi ini memiliki hubungan erat dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah berlangsung selama berabad-abad.
Gamelan Kyai Sekati Berangkat dari Sasana Handrawina
Sebelum prosesi berlangsung, Keraton Solo menyimpan Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Sasana Handrawina. Gusti Moeng menjelaskan bahwa sebelumnya keraton menempatkan kedua perangkat pusaka tersebut di Pendopo Parangkarso.
Namun, kondisi bangunan Pendopo Parangkarso sudah mengalami kerusakan cukup parah. Keraton kemudian memindahkan gamelan ke Sasana Handrawina untuk menjaga perangkat tersebut sekaligus mempersiapkan rencana revitalisasi bangunan.
Menurut Gusti Moeng, kondisi Pendopo Parangkarso saat ini juga kurang mendukung untuk menyimpan perangkat gamelan. Banyak kelelawar menghuni area bangunan tersebut. Karena itu, pihak keraton memilih lokasi lain yang lebih sesuai.
Rencana revitalisasi nantinya akan menyentuh kawasan tersebut. Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjaga bangunan bersejarah sekaligus melindungi berbagai benda penting milik Keraton Solo.
Dua Gamelan Pusaka Mengiringi Tradisi Sekaten
Gusti Moeng menjelaskan bahwa Keraton Solo membawa Gamelan Kyai Sekati menuju Masjid Agung sebagai bagian dari tradisi Sekaten. Masyarakat mengenal tradisi tersebut sebagai salah satu rangkaian budaya untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, tradisi Sekaten memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri hingga masa Kesultanan Demak. Perjalanan panjang tersebut membuat Sekaten tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa.
Gusti Moeng juga menyinggung keberadaan gamelan yang berkaitan dengan tradisi pada masa Demak. Menurut keterangannya, gamelan dari masa tersebut berada di Kanoman, Cirebon.
Sementara itu, Keraton Solo terus menjaga Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari sebagai bagian penting dari pelaksanaan Sekaten. Kehadiran kedua perangkat pusaka tersebut menjadi salah satu ciri khas tradisi yang masyarakat nantikan setiap tahun.

Abdi dalem mengeluarkan Gamelan Kyai Sekati menyambut Maulid Nabi, Rabu (19/8/2026).
Gamelan Mulai Berbunyi pada Siang Hari
Setelah tiba di kompleks Masjid Agung Solo, para pengrawit mulai memainkan gamelan sekitar pukul 13.30 WIB. Keraton akan menyesuaikan jadwal tabuhan dengan rangkaian kegiatan keagamaan selama peringatan Maulid Nabi.
Khusus pada Kamis, tabuhan gamelan hanya berlangsung sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Keraton menghentikan aktivitas setelah waktu Ashar menjelang malam Jumat.
Kemudian pada Jumat, para pengrawit kembali memainkan gamelan setelah pelaksanaan salat Jumat. Pola tersebut mengikuti ketentuan tradisi yang selama ini Keraton Solo pertahankan dalam pelaksanaan Sekaten.
Suara gamelan akan terus mengiringi rangkaian Sekaten hingga mencapai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, masyarakat dapat kembali menyaksikan tradisi yang menggabungkan unsur budaya Jawa dan nilai keagamaan tersebut.
Guntur Sari dan Guntur Madu Menempati Bangsal Berbeda
Keraton Solo menempatkan kedua perangkat Gamelan Kyai Sekati di dua Bangsal Pagongan yang berbeda. Gamelan Kyai Guntur Sari menempati Bangsal Pagongan bagian utara. Sementara itu, Gamelan Kyai Guntur Madu berada di Bangsal Pagongan bagian selatan.
Setiap perangkat memiliki sejumlah instrumen, antara lain gong, bedug, kempyang, serta saron. Gusti Moeng menyebut kondisi perangkat secara umum masih baik.
Meski demikian, keraton menemukan kerusakan pada salah satu bagian saron. Para perajin kemudian membuat bagian baru sebagai pengganti. Selain itu, pencu kempyang juga sempat mengalami kerusakan dan pihak keraton telah menggantinya.
Perawatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan tradisi Sekaten. Usia perangkat dan nilai sejarahnya membuat keraton perlu melakukan pemeriksaan serta pemeliharaan secara berkala.
Keluarnya Gamelan Kyai Sekati dari Keraton Solo menuju Masjid Agung bukan sekadar prosesi pemindahan perangkat musik. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan upaya keraton mempertahankan warisan budaya yang telah melewati perjalanan sejarah panjang.
Melalui tabuhan Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, suasana Sekaten kembali hadir di kawasan Masjid Agung Solo. Tradisi tersebut menjadi penghubung antara sejarah keraton, kebudayaan Jawa, dan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang terus masyarakat kenal hingga sekarang.