Tradisi Yaaqawiyyu – kembali menyedot perhatian masyarakat di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Masjid Gedhe Jatinom untuk mengikuti puncak perayaan yang identik dengan penyebaran ribuan kue apem. Tahun ini, jumlah apem yang di bagikan mencapai sekitar 65 ribu butir, meningkat di bandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan, tetapi juga memiliki makna religius, sosial, dan ekonomi. Antusiasme masyarakat yang datang sejak pagi menunjukkan bahwa Yaaqawiyyu tetap menjadi salah satu agenda budaya paling dinantikan di Klaten setiap tahunnya.
Ribuan Warga Padati Jatinom untuk Mengikuti Tradisi Yaaqawiyyu
Puncak pelaksanaan tradisi Yaaqawiyyu berlangsung setelah pelaksanaan salat Jumat di Masjid Gedhe Jatinom. Seusai ibadah, dua gunungan berisi ribuan kue apem diarak menuju panggung utama yang berada di kawasan Sendang Plampeyan, tepat di sebelah selatan kompleks masjid.
Arak-arakan berlangsung meriah dengan di iringi tokoh masyarakat, pejabat daerah, serta keturunan Ki Ageng Gribig. Kehadiran berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat semakin menambah semarak prosesi yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Jatinom.
Setibanya di lokasi utama, gunungan apem terlebih dahulu didoakan sebelum akhirnya ribuan kue tersebut di bagikan kepada masyarakat. Dalam hitungan menit, warga yang telah memenuhi lapangan langsung berebut apem yang di lemparkan dari atas panggung. Suasana penuh semangat pun mewarnai prosesi tersebut.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan, tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar Kabupaten Klaten demi menyaksikan sekaligus mengikuti tradisi tahunan tersebut.
Jumlah Apem Meningkat Menjadi Sekitar 65 Ribu Butir
Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig menjelaskan bahwa jumlah apem yang di siapkan pada tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan di bandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada penyelenggaraan sebelumnya jumlah apem berada di kisaran 50 ribu butir, kali ini panitia menyediakan sekitar 65 ribu apem dengan total berat mencapai sekitar 6,5 ton. Penambahan jumlah tersebut dilakukan untuk mengakomodasi tingginya antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Peningkatan produksi apem juga memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Jatinom. Permintaan bahan baku seperti tepung beras, santan, gula, dan kebutuhan lainnya ikut meningkat selama persiapan acara berlangsung.
Dengan demikian, tradisi Yaaqawiyyu tidak hanya menjadi kegiatan budaya dan keagamaan, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat melalui aktivitas produksi kue apem.

Penyebaran apem di acara Yaaqawiyyu, Jatinom, Klaten, Jumat (31/7/2026).
Filosofi Apem sebagai Lambang Ampunan dan Saling Memaafkan
Di balik tradisi pembagian apem, terdapat pesan spiritual yang di wariskan sejak zaman Ki Ageng Gribig. Apem di percaya berasal dari kata “afuwun” yang memiliki makna ampunan atau memohon maaf kepada Allah SWT.
Melalui penyebaran apem, masyarakat di ajak untuk mempererat hubungan antarsesama sekaligus meningkatkan kesadaran spiritual. Tradisi tersebut menjadi pengingat pentingnya saling memaafkan, memperbaiki hubungan sosial, dan memohon ampun kepada Tuhan.
Nilai-nilai tersebut menjadi inti dari penyelenggaraan Yaaqawiyyu yang terus di pertahankan hingga sekarang. Oleh karena itu, tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan juga sarana memperkuat kebersamaan dan memperdalam nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan tentang pentingnya meminta dan memberi maaf juga menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini tetap mendapat tempat di hati masyarakat, meski telah berlangsung selama ratusan tahun.
Simbol Sedekah, Gotong Royong, dan Penggerak Ekonomi
Selain memiliki nilai religius, Yaaqawiyyu juga mencerminkan semangat berbagi kepada sesama. Tradisi pembagian apem mengajarkan pentingnya sedekah, kepedulian sosial, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir mewakili trah Ki Ageng Gribig menyampaikan bahwa Yaaqawiyyu merupakan warisan budaya yang sarat makna. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya bentuk penghormatan terhadap ajaran Ki Ageng Gribig, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan semangat berbagi kepada masyarakat.
Ia juga menilai bahwa penyelenggaraan tradisi tersebut memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kehadiran puluhan ribu pengunjung setiap tahun memberikan peluang bagi pelaku UMKM, pedagang makanan, hingga sektor pariwisata lokal untuk meningkatkan pendapatan.
Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan acara menjadi salah satu manfaat nyata dari pelestarian tradisi budaya tersebut.
Menjadi Puncak Rangkaian Grebeg Ageng Saparan
Tradisi penyebaran apem merupakan acara puncak dalam rangkaian Grebeg Ageng Saparan yang rutin di gelar di Kecamatan Jatinom. Perayaan ini berlangsung selama kurang lebih dua pekan dengan berbagai kegiatan budaya, keagamaan, dan tradisi masyarakat.
Selama rangkaian acara berlangsung, kawasan Jatinom di penuhi pengunjung yang ingin menyaksikan beragam prosesi budaya khas daerah tersebut. Puncaknya adalah pembagian puluhan ribu apem yang selalu menjadi momen paling di tunggu oleh masyarakat.
Antusiasme yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa Yaaqawiyyu tetap menjadi salah satu tradisi budaya yang berhasil di pertahankan di tengah perkembangan zaman. Selain menjaga warisan leluhur, tradisi ini juga memperkuat identitas budaya Kabupaten Klaten. Sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.