Letnan Jenderal TNI Bambang Trisnohadi – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III), memastikan seluruh 11 bandara perintis di Papua kini berada di bawah pengawasan penuh TNI. Langkah ini di lakukan setelah gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) sempat mengganggu operasional penerbangan. Dengan kehadiran TNI, masyarakat dapat kembali menggunakan bandara dengan aman, sementara operasional transportasi udara berlangsung tertib dan lancar.
Pemantauan Langsung di Lapangan
Bambang meninjau langsung situasi di beberapa bandara bersama Panglima Komando Daerah Angkatan Udara III (Pangkodau III) Marsda TNI Azhar Aditama Djojosugito. Selain itu, personel TNI mengamankan area sekitar, misalnya di Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Dengan begitu, koordinasi antara matra darat dan udara berjalan efektif, sementara masyarakat merasa lebih aman. Bahkan, sinergi ini meningkatkan kesiapsiagaan TNI dalam melindungi objek vital nasional di wilayah rawan.
Bandara Perintis yang Diamankan
TNI menjaga 11 bandara perintis secara penuh, terbagi ke dalam tiga wilayah utama:
-
Papua Pegunungan: Lapangan Terbang Iwur, Teiraplu, dan Aboy.
-
Papua Selatan: Lapter Korowai Batu Bomakia, Yaniruma, dan Manggelum.
-
Papua Tengah: Lapter Beoga, Dagai, Fawi, dan Kapiraya.
Selain menjaga keamanan, TNI mendukung layanan lalu lintas udara melalui Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara. Mereka membantu pengaturan Air Traffic Controller (ATC), sehingga seluruh penerbangan dapat berlangsung aman dan tepat waktu. Dengan demikian, TNI tidak hanya menjaga bandara secara fisik, tetapi juga memastikan kelancaran operasional.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Bambang Trisnohadi (kanan) berdiskusi dengan Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara (Pangkodau) III Marsda TNI Azhar Aditama saat meninjau langsung situasi keamanan Bandar Udara Manggelum, Boven Digoel, Papua Selatan.
Bandara Perintis sebagai Jalur Vital
Bambang menekankan bahwa bandara perintis di Papua berfungsi lebih dari sekadar sarana transportasi udara. Karena itu, bandara menjadi jalur vital untuk distribusi logistik, layanan kesehatan, akses pendidikan, dan mobilitas ekonomi warga pedalaman. Bahkan, bandara berperan sebagai simbol kedaulatan negara di Bumi Cenderawasih. Dengan kehadiran TNI, masyarakat pedalaman memperoleh layanan penting tanpa gangguan, sementara pemerintah memastikan jalur vital tetap aman dan berfungsi.
“Bersama seluruh elemen bangsa di Papua, mari kita jaga bandara perintis sebagai simbol kemajuan, kemakmuran, dan kedaulatan NKRI,” tegas Bambang.
Latar Belakang Penutupan Bandara
Penutupan sementara 11 bandara perintis terjadi setelah insiden penembakan pada 11 Februari 2026. Kedua pilot pesawat perintis Cessna Grand Caravan PK-SNR milik PT Smart Cakrawala Aviation tewas di tembak KKB saat menerbangkan rute Tanah Merah (TMH)–Danawage/Korowai Batu (DNW). Kejadian ini mendorong pemerintah mengambil langkah preventif demi keselamatan masyarakat dan personel penerbangan.
Selanjutnya, pada 18 Februari 2026, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa penutupan sementara bandara menjadi langkah mitigasi risiko. Dengan demikian, aparat keamanan memiliki waktu untuk menstabilkan situasi dan menyiapkan prosedur operasional yang aman sebelum bandara kembali di buka.
Pemulihan Keamanan dan Fungsi Bandara
Setelah pengamanan intensif, TNI berhasil memulihkan kondisi di seluruh bandara. Pasukan menjaga 24 jam setiap hari, sambil memastikan masyarakat tetap dapat menggunakan layanan transportasi udara. Selain itu, koordinasi antar unit darat dan udara menjaga jalur logistik tetap lancar, sementara pelayanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan. Dengan begitu, bandara kembali menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Papua, yang membantu mobilitas ekonomi sekaligus memperkuat kehadiran negara.
Kesimpulan
Pemulihan keamanan 11 bandara perintis di Papua menunjukkan kehadiran negara secara nyata di wilayah rawan. Selain menjaga keselamatan penerbangan, TNI memastikan masyarakat pedalaman memperoleh akses logistik, layanan kesehatan, pendidikan, dan mobilitas ekonomi secara lancar. Dengan dukungan TNI dan sinergi antar matra darat dan udara, bandara perintis kini berfungsi optimal. Karena itu, pengawasan terpadu serta keterlibatan seluruh elemen bangsa menjadi kunci keberhasilan menjaga objek vital nasional di Papua.