Sepak Bola Indonesia – Baru-baru ini mengalami kehilangan besar ketika asisten pelatih Arema FC, Kuncoro, meninggal dunia akibat serangan jantung. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (18/1/2026) sore, saat ia mengikuti Laga Charity 100 Tahun Stadion Gajayana. Momen tragis ini menjadi pengingat nyata bahwa risiko jantung bisa muncul kapan saja, bahkan ketika seseorang beraktivitas fisik yang dianggap sehat.

Banyak orang menganggap olahraga sebagai jalan utama menuju tubuh sehat. Namun, olahraga yang tidak di sesuaikan dengan kondisi tubuh dapat berubah menjadi ancaman serius. Kejadian yang menimpa Kuncoro menekankan pentingnya mengenali batas tubuh sendiri sebelum menambah intensitas latihan atau mengikuti kompetisi.

Kenali Batas Tubuh dan Kondisi Jantung

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), dr. Mohammad Perdana Airlangga, Sp.JP, menekankan bahwa setiap orang harus memahami kondisi tubuhnya sebelum berolahraga. Ia menjelaskan bahwa kesalahan paling umum muncul saat seseorang memaksakan diri melakukan aktivitas fisik tanpa persiapan.

“Contohnya, seseorang yang jarang berolahraga tiba-tiba ikut lari jarak jauh. Itu sudah membawa risiko tinggi bagi jantung,” jelas dr. Perdana. Tubuh membutuhkan adaptasi bertahap untuk menghadapi beban fisik baru. Tanpa adaptasi, jantung dapat bekerja terlalu keras, memicu komplikasi serius, atau bahkan serangan jantung.

Risiko Jantung

Ilustrasi olahraga dengan teman.

Pilih Olahraga yang Sesuai dan Hindari Overtraining

Selain masyarakat umum, atlet juga tetap menghadapi risiko jantung. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi sangat penting. Medical check-up membantu mengidentifikasi faktor risiko atau penyakit tersembunyi yang dapat memengaruhi fungsi jantung, terutama bagi mereka yang melakukan latihan berat secara konsisten.

dr. Perdana menyarankan, “Olahraga aman meliputi jogging, jalan kaki, senam, dan bersepeda santai. Hindari aktivitas berat seperti mendaki bukit atau olahraga kompetisi tanpa pengawasan medis.” Ia menekankan bahwa orang di atas 40 tahun sebaiknya menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti kompetisi, karena risiko serangan jantung meningkat seiring usia.

Bedakan Serangan Jantung dan Henti Jantung

dr. Perdana juga menjelaskan perbedaan antara serangan jantung dan henti jantung. Serangan jantung biasanya memberikan tanda awal, seperti nyeri dada, sesak napas, atau rasa tekanan di dada. Sebaliknya, henti jantung terjadi secara tiba-tiba dan sering kali menyebabkan pingsan seketika.

Serangan jantung muncul akibat sumbatan pembuluh darah koroner. Jika tidak segera di tangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi henti jantung. Semua olahraga, baik lari, sepak bola, basket, maupun badminton, memiliki risiko jika tubuh tidak siap. Bahkan orang muda dengan kondisi tubuh sehat sekalipun tetap bisa menghadapi risiko serangan atau henti jantung.

Olahraga Rekreasi vs Kompetisi

Penting membedakan olahraga rekreasi dan olahraga kompetisi. Beban fisik dan risiko yang di hadapi atlet kompetitif jauh berbeda dari mereka yang berolahraga untuk kesehatan. dr. Perdana menekankan, “Meski seseorang pernah menjadi atlet, jika pola latihan saat ini tidak seintens dulu, risiko tetap ada.”

Untuk olahraga kompetisi, pengawasan tenaga medis menjadi keharusan. Dengan pengawasan yang tepat, atlet dan masyarakat dapat menekan risiko gangguan jantung. Adaptasi bertahap, pemilihan jenis olahraga sesuai kondisi fisik, serta pemeriksaan rutin menjadi strategi utama agar olahraga tetap menyehatkan tanpa membahayakan jantung.

Kesimpulan

Kematian Kuncoro menjadi pengingat penting bahwa olahraga menuntut kesiapan fisik, perencanaan, dan kehati-hatian. Setiap orang perlu mengenali batas tubuh, memilih olahraga yang sesuai, dan menjalani pemeriksaan rutin untuk mencegah risiko jantung. Olahraga memang menyehatkan, tetapi keselamatan jantung harus selalu menjadi prioritas. Dengan kesadaran ini, masyarakat dapat tetap menikmati manfaat olahraga tanpa menghadapi risiko serius.