China dan Kamboja – Kembali menunjukkan komitmen kuat dalam mempererat hubungan budaya melalui pameran bertajuk “Kisah Epik Air dan Batu”. Pameran ini resmi dibuka di Qionghai, Provinsi Hainan, China selatan, dan langsung menarik perhatian publik serta pemerhati budaya. Melalui kegiatan ini, kedua negara menegaskan pentingnya pelestarian warisan sejarah sekaligus memperluas dialog lintas peradaban di kawasan Asia.
Latar Belakang Penyelenggaraan Pameran
Pameran “Kisah Epik Air dan Batu” lahir dari kerja sama strategis antara lembaga kebudayaan China dan Kamboja. Kerja sama ini bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Asia Tenggara kepada masyarakat internasional, khususnya di China. Selain itu, pameran ini juga berfungsi sebagai sarana diplomasi budaya yang memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Melalui pendekatan tematik, penyelenggara menyoroti keterkaitan antara alam, manusia, dan peradaban. Air dan batu dipilih sebagai simbol utama karena keduanya membentuk fondasi kehidupan dan kebudayaan di wilayah Kamboja sejak ribuan tahun lalu. Dengan demikian, pengunjung dapat memahami bagaimana unsur alam tersebut membentuk identitas budaya dan nilai historis masyarakat Kamboja.

“Kisah Epik Air dan Batu,” sebuah pameran tentang peradaban kuno Kamboja, di Museum Laut China Selatan (Hainan) di Qionghai, Provinsi Hainan, China selatan, pada 22 Januari 2026. (Xinhua/Zhang Liyun)
Koleksi Peninggalan Budaya dari Museum Nasional Kamboja
Pameran ini menampilkan 122 benda atau set peninggalan budaya yang berasal langsung dari Museum Nasional Kamboja. Koleksi tersebut mencakup berbagai artefak bernilai tinggi, termasuk ukiran batu, tembikar kuno, serta objek budaya lain yang mencerminkan keahlian seni dan teknologi masyarakat Kamboja pada masa lampau.
Setiap artefak menunjukkan detail artistik yang kuat dan nilai sejarah yang mendalam. Ukiran batu, misalnya, menggambarkan kepercayaan spiritual, struktur sosial, dan hubungan manusia dengan alam. Sementara itu, tembikar kuno memperlihatkan perkembangan teknik produksi serta fungsi benda dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kuno.
Selain menampilkan keindahan visual, pameran ini juga menyajikan informasi kontekstual yang membantu pengunjung memahami latar sejarah setiap benda. Dengan pendekatan ini, pengunjung tidak hanya menikmati artefak, tetapi juga memperoleh pengetahuan yang komprehensif.
Peran Qionghai sebagai Lokasi Strategis Pameran
Penyelenggara memilih Qionghai di Provinsi Hainan sebagai lokasi pameran karena kota ini memiliki posisi strategis dalam pertukaran budaya regional. Qionghai dikenal sebagai kawasan yang aktif mendorong kegiatan budaya internasional. Oleh karena itu, pameran ini dapat menjangkau audiens yang luas, termasuk wisatawan, akademisi, dan generasi muda.
Selain itu, Hainan berperan penting sebagai jembatan budaya antara China dan negara-negara Asia Tenggara. Dengan menggelar pameran di wilayah ini, penyelenggara berharap dapat memperkuat pemahaman lintas budaya sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap sejarah Asia Tenggara.
Makna Budaya dan Nilai Edukatif Pameran
Pameran “Kisah Epik Air dan Batu” tidak hanya berfungsi sebagai ajang apresiasi seni, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya. Melalui narasi yang terstruktur, pameran ini mengajak pengunjung memahami perjalanan panjang peradaban Kamboja, mulai dari aspek spiritual hingga kehidupan sosial.
Selain itu, pameran ini mendorong kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya. Dengan melihat langsung artefak asli, pengunjung dapat menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kesadaran ini diharapkan dapat memicu kepedulian generasi muda terhadap perlindungan peninggalan budaya di tengah arus modernisasi.
Dampak terhadap Hubungan Budaya Internasional
Melalui pameran ini, China dan Kamboja memperkuat hubungan budaya yang telah terjalin lama. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kerja sama budaya mampu menciptakan ruang dialog yang positif dan konstruktif. Selain itu, pameran ini juga membuka peluang kolaborasi lanjutan di bidang penelitian, pendidikan, dan pariwisata budaya.
Dengan menghadirkan artefak asli ke panggung internasional, Kamboja dapat memperluas pengaruh budaya sekaligus memperkenalkan identitas nasionalnya kepada dunia. Di sisi lain, China memperkuat perannya sebagai pusat pertukaran budaya regional yang inklusif dan terbuka.
Kesimpulan
Pameran “Kisah Epik Air dan Batu” di Qionghai menjadi bukti nyata komitmen China dan Kamboja dalam melestarikan serta mempromosikan warisan budaya. Melalui 122 artefak bernilai tinggi, pameran ini menyajikan kisah peradaban yang kaya, mendalam, dan relevan dengan kehidupan modern. Dengan pendekatan edukatif dan visual yang kuat, pameran ini tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga memperkaya pemahaman masyarakat global terhadap sejarah dan budaya Kamboja.