Peran Aparat Kepolisian – Tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Beberapa anggota kepolisian juga menunjukkan kontribusi di bidang sosial dan budaya. Salah satu contoh datang dari Analis Kebijakan Staf Utama bidang Operasi Polri, Kombes Tri Suhartanto, yang aktif melestarikan seni budaya Indonesia, khususnya budaya pascakemerdekaan.

Kombes Tri secara konsisten mengembangkan berbagai kegiatan budaya di tengah masyarakat. Ia mengelola lima museum swasta sekaligus membina 18 sanggar tari. Selain itu, sanggar-sanggar tersebut menjadi ruang pembinaan bagi anak-anak putus sekolah hingga anak jalanan. Melalui kegiatan tersebut, ia tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menemukan potensi diri mereka.

Komitmen tersebut bahkan membuat sebagian masyarakat mengusulkan namanya sebagai kandidat Hoegeng Awards kategori inovatif. Usulan tersebut muncul dari pembaca bernama Denny Yusuf yang menilai Kombes Tri memiliki gagasan kuat tentang kehadiran polisi melalui pendekatan seni dan budaya.

Awal Perjalanan Gerakan Sosial dan Budaya

Hubungan antara Denny Yusuf dan Kombes Tri bermula sejak masa muda. Namun, mereka mulai aktif menjalankan kegiatan sosial bersama sekitar tahun 2010 hingga 2011. Pada masa itu, Kombes Tri menjabat sebagai Wakapolres Kota Mojokerto.

Saat itu mereka menjalankan kegiatan bakti sosial keliling desa. Kegiatan tersebut meliputi pengobatan gratis, hiburan masyarakat, serta pertunjukan seni tradisional seperti wayang potehi dan wayang kulit. Kegiatan tersebut tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga memperkenalkan kembali seni tradisional kepada warga.

Meskipun kemudian Kombes Tri berpindah tugas ke wilayah lain, komunikasi antara mereka tetap berjalan. Dari komunikasi tersebut lahir semangat bersama untuk menjaga kelestarian seni budaya Indonesia, terutama budaya yang berkembang setelah masa kemerdekaan.

Lahirnya Museum Gubuk Wayang

Keseriusan mereka dalam melestarikan budaya kemudian melahirkan sebuah langkah nyata. Pada tahun 2015, mereka mendirikan Museum Gubuk Wayang di Kota Mojokerto. Museum tersebut berdiri atas inisiatif Kombes Tri dan kakak dari Denny Yusuf.

Museum ini memiliki nilai historis penting karena menyimpan berbagai koleksi seni budaya. Bahkan, sebagian besar koleksi milik almarhum Pak Raden, pencipta tokoh Si Unyil, tersimpan di museum tersebut. Sebagian kecil koleksi lainnya berada di Museum Wayang Jakarta serta Taman Mini Indonesia Indah.

Pendirian museum tersebut juga berangkat dari keprihatinan terhadap fenomena yang sempat berkembang di masyarakat. Pada masa tertentu, sebagian orang menganggap benda budaya seperti keris dan wayang sebagai benda yang berkaitan dengan hal mistis. Akibatnya, beberapa artefak budaya justru dirusak atau dibakar.

Kondisi tersebut memunculkan kesadaran bahwa artefak budaya merupakan bagian dari identitas bangsa. Oleh karena itu, mereka memilih langkah pelestarian melalui museum agar masyarakat dapat memahami nilai sejarah dan budaya dari benda-benda tersebut.

Kombes Tri

Kombes Tri Suhartanto, polisi pelestari budaya kelola 5 museum dan 18 sanggar tari.

Pengembangan Museum Budaya di Berbagai Kota

Setelah Museum Gubuk Wayang berdiri, upaya pelestarian budaya terus berkembang. Pada tahun 2019, mereka membuka Museum Ganesya di Kota Malang yang berada di kawasan Hawaii Waterpark. Museum tersebut memperluas ruang edukasi bagi masyarakat mengenai seni dan sejarah budaya.

Selanjutnya, pada tahun 2024 mereka membuka Museum Srimulat di Kota Batu. Museum tersebut menampilkan sejarah kelompok lawak legendaris Indonesia yang pernah memberi warna dalam dunia hiburan nasional.

Tidak berhenti di situ, mereka juga merencanakan pembukaan dua museum baru pada April mendatang di Mojokerto. Kedua museum tersebut yaitu Museum Dolanan Bocah yang menampilkan permainan tradisional anak serta Museum Cipta Mahardika yang menampilkan berbagai karya seni budaya lainnya.

Dengan hadirnya museum-museum tersebut, masyarakat memperoleh ruang edukasi yang lebih luas mengenai sejarah seni dan budaya Indonesia.

Membina Anak Putus Sekolah Melalui Sanggar Seni

Selain mengembangkan museum, Kombes Tri juga fokus membina generasi muda melalui sanggar seni. Saat ini, terdapat sekitar 18 sanggar tari yang berada di bawah pembinaan mereka.

Menariknya, sebagian besar anggota sanggar berasal dari latar belakang yang rentan secara sosial. Banyak di antara mereka merupakan anak putus sekolah, anak jalanan, hingga anak muda yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan positif.

Melalui kegiatan seni seperti tari Barongsai, Liong, hingga tari Ramayana, mereka memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bakat sekaligus membangun kepercayaan diri. Selain itu, kegiatan tersebut juga membantu menyalurkan energi anak muda ke arah yang lebih positif.

Awalnya sanggar tersebut hanya memiliki sekitar 30 anggota. Namun seiring waktu, jumlahnya meningkat hingga hampir 190 anak. Banyak dari mereka kemudian memperoleh kesempatan tampil dalam berbagai acara budaya, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Polisi Hadir Melalui Pendekatan Budaya

Kombes Tri tidak hanya memberikan arahan dari belakang layar. Ia sering turun langsung ke sanggar-sanggar seni untuk memberikan bimbingan serta motivasi kepada para anggota.

Dalam setiap pertemuan, ia juga menyisipkan pesan tentang keamanan dan ketertiban masyarakat. Ia ingin menanamkan pemahaman bahwa seni dan budaya dapat menjadi sarana positif untuk membangun masa depan.

Menariknya, Kombes Tri selalu mengenakan seragam polisi saat menghadiri kegiatan budaya. Ia memiliki alasan sederhana di balik kebiasaan tersebut. Ia ingin menunjukkan bahwa polisi dapat hadir secara positif di tengah masyarakat.

Melalui pendekatan budaya, ia berharap masyarakat dapat melihat sisi humanis dari institusi kepolisian. Selain itu, ia juga ingin membangun hubungan yang lebih dekat antara polisi dan masyarakat.

Menurutnya, citra positif kepolisian hanya dapat tumbuh melalui interaksi nyata dengan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan sosial dan budaya menjadi salah satu cara untuk membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.