Poligami – Memang bukan fenomena baru di berbagai masyarakat, namun kisah Muhammad Azizi Zakaria menarik perhatian publik karena di namika unik dalam pernikahan keduanya. Cerita ini viral karena sosok istri kedua yang baru di nikahi ternyata merupakan teman dekat istri pertama, dan respon sang istri pertama menimbulkan perbincangan luas.
Azizi diketahui menikahi Nor Azura, teman sekaligus kenalan dekat istrinya yang bernama Shuhadah Jaafar. Menariknya, pernikahan itu di hadiri langsung oleh Shuhadah. Dalam foto-foto yang beredar, terlihat Shuhadah menemani suami dan sahabatnya dengan sikap tenang dan ikhlas. Sikap ini menarik perhatian karena tidak banyak istri pertama yang mampu menerima situasi serupa.
Reaksi Shuhadah Terhadap Pernikahan Kedua Suami
Dalam wawancara dengan media Malaysia, Shuhadah mengaku sempat patah hati ketika mengetahui suaminya jatuh cinta kepada temannya sendiri. Ia merasa sulit menerima kenyataan awalnya, mengingat siapa yang akan menikah dengan suaminya adalah orang yang dekat dan di kenal baik. “Istri mana yang mau ada di dalam pernikahan poligami?” ungkapnya.
Namun, seiring waktu, Shuhadah mulai mempertimbangkan segala aspek secara matang. Ia menilai bahwa niat suaminya menikahi Nor Azura tidak semata-mata di dorong oleh nafsu, melainkan oleh pertimbangan keluarga, tanggung jawab, dan masa depan bersama. Sikap ini menunjukkan kedewasaan emosional dan keterbukaan dalam menghadapi situasi yang kompleks.

Muhammad Azizi Zakaria Foto: Facebook Muhammad Azizi Zakaria
Awal Pertemuan dengan Nor Azura
Shuhadah menjelaskan bahwa ia pertama kali bertemu Nor Azura ketika wanita itu memesan pakaian di butik miliknya. Selain itu, mereka beberapa kali menghadiri acara bersama, sehingga Shuhadah mengenal kepribadian dan latar belakang Azura. Dari interaksi tersebut, Shuhadah merasa simpati terhadap kehidupan Nor Azura yang memiliki pengalaman hidup cukup menantang di masa lalu.
Ketika Azizi menyampaikan niatnya untuk menikahi Azura, Shuhadah melakukan refleksi panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima keputusan suami. Ia percaya bahwa suaminya bertindak jujur dan ingin meresmikan hubungan itu secara hukum. Shuhadah menekankan pentingnya transparansi suami terhadap istri pertama agar tidak menimbulkan spekulasi atau kesalahpahaman di masyarakat.
Prinsip dan Motivasi Azizi
Azizi sendiri mengaku bahwa kedekatannya dengan Nor Azura tidak pernah ia rencanakan. Awalnya, ia mencoba menjauhkan diri dari perasaan tersebut. Namun, pada akhirnya, ia menyadari bahwa hatinya sudah terikat. Untuk menghindari konflik dan konsekuensi negatif, Azizi memilih bersikap terbuka kepada Shuhadah dan mengikuti prosedur hukum sebelum menikahi Azura.
Ia menegaskan bahwa pernikahan kedua bukan di latarbelakangi nafsu, melainkan keinginan untuk memberikan perlindungan dan bimbingan kepada istri keduanya. Selain itu, Azizi dan Azura juga menjalankan bisnis bersama, sehingga pernikahan ini juga menjadi bentuk tanggung jawab profesional dan personal yang seimbang.
Kehidupan Harmonis dan Pesan Shuhadah
Kini, hubungan antara Shuhadah dan Nor Azura di laporkan tetap harmonis. Kedua wanita tersebut saling mendukung untuk memastikan Azizi memperlakukan mereka dan anak-anaknya dengan adil. Shuhadah menekankan agar publik tidak menghakimi Nor Azura sebagai perusak rumah tangga, karena sikap jujur dan terbuka suami menjadi faktor utama.
Shuhadah juga berharap kisahnya menjadi pelajaran bagi pasangan yang mempertimbangkan poligami. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan komunikasi agar proses pernikahan berjalan dengan hormat dan transparan. Sikap ini membantu mencegah konflik, memperkuat hubungan keluarga, dan menumbuhkan rasa saling menghormati antara semua pihak.
Kesimpulan
Kisah poligami Muhammad Azizi Zakaria menunjukkan bahwa dengan keterbukaan, komunikasi, dan sikap dewasa, pernikahan yang kompleks dapat dijalani secara harmonis. Sikap ikhlas Shuhadah, kejujuran Azizi, dan penerimaan Nor Azura menjadi contoh bahwa poligami tidak selalu identik dengan konflik. Bahkan, pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran berharga tentang pengelolaan emosi, tanggung jawab, dan etika dalam membangun keluarga modern.
Kisah ini tidak hanya menarik perhatian publik di Malaysia, tetapi juga menjadi viral di media sosial karena menampilkan dinamika keluarga yang jarang terlihat, sekaligus memberikan perspektif baru tentang kehidupan poligami di era modern.