Pemerintah – Provinsi DKI Jakarta menetapkan langkah baru untuk menangani ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan bahwa petugas akan mengubur seluruh ikan sapu-sapu hasil tangkapan dari berbagai wilayah perairan Jakarta.
Pramono menilai jumlah ikan sapu-sapu sudah terlalu tinggi dan mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Ia menyebutkan bahwa ikan ini mendominasi lebih dari 60 persen biota air di sejumlah titik perairan Jakarta. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mengambil tindakan cepat dan terukur.
Pemerintah ingin menekan populasi ikan invasif ini agar ekosistem sungai dapat kembali stabil. Langkah penguburan ikan menjadi bagian dari strategi pengendalian yang di anggap paling aman untuk saat ini.
Alasan Kesehatan di Balik Kebijakan Penguburan
Pramono menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu mengandung zat berbahaya yang tidak layak masuk ke tubuh manusia. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh mengonsumsi ikan ini dalam bentuk apa pun.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu menyerap logam berat dari lingkungan air tempat mereka hidup. Kandungan tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia jika masuk ke rantai makanan.
Pramono juga menyebut bahwa kadar residu dalam tubuh ikan sapu-sapu di Jakarta tergolong tinggi. Ia mengingatkan bahwa risiko kesehatan dapat meningkat jika masyarakat mengabaikan peringatan ini.
Pemerintah daerah kemudian memilih langkah penguburan untuk mencegah penyalahgunaan atau konsumsi tidak sengaja.
Asal Ikan Sapu-Sapu dan Daya Tahan Tinggi
Pramono menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan. Spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang sangat kuat di berbagai kondisi perairan.
Ikan ini dapat hidup di air bersih maupun air yang tercemar. Kemampuan tersebut membuat ikan sapu-sapu cepat berkembang biak di berbagai wilayah, termasuk sungai-sungai di Jakarta.
Karakter invasif ini membuat ikan sapu-sapu sulit terkendali. Populasinya tumbuh cepat dan menggeser keberadaan ikan lokal yang lebih rentan.
Di beberapa negara, ikan ini bahkan sudah masuk dalam kategori spesies yang perlu di kendalikan secara khusus karena dampaknya terhadap ekosistem.

Proses penangkapan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Upaya Pemanfaatan di Negara Lain dan Tantangannya
Pramono menyampaikan bahwa beberapa negara di Amerika Selatan sudah mencoba mengolah ikan sapu-sapu dengan teknologi khusus. Mereka menggunakan suhu tinggi untuk mengolah ikan ini menjadi bahan tepung.
Produk tersebut kemudian di manfaatkan sebagai pakan ternak atau bahan ikan hias. Namun, proses ini belum berjalan luas karena negara tersebut masih menghadapi kekhawatiran terkait kandungan logam berat.
Negara-negara dengan kualitas air lebih bersih pun tetap menemukan kadar logam dalam tubuh ikan sapu-sapu yang cukup tinggi. Hal ini membuat pemanfaatan skala besar masih menjadi perdebatan.
Pandangan KKP tentang Pemanfaatan Ikan Sapu-Sapu
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Haeru Rahayu, memberikan pandangan terkait potensi pemanfaatan ikan sapu-sapu.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat masih bisa memanfaatkan ikan ini sebagai bahan pupuk organik. Cara ini dianggap paling aman karena tidak melibatkan konsumsi langsung oleh manusia atau hewan ternak.
Haeru juga menyebutkan bahwa sebagian pihak sempat mengusulkan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan tepung ikan. Namun, ia menolak ide tersebut karena risiko peredaran residu dalam rantai makanan sangat tinggi.
Ia menjelaskan bahwa alur makanan dapat membawa dampak berantai. Jika ikan hasil olahan dimakan oleh ikan lain, lalu dikonsumsi manusia, maka risiko kontaminasi tetap muncul.
Ancaman Ekologis dari Spesies Invasif
Ledakan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta menunjukkan tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Ikan ini menguasai habitat sungai dan mengganggu keseimbangan spesies lokal.
Populasi ikan lokal menurun karena kalah bersaing dalam mendapatkan makanan dan ruang hidup. Kondisi ini mengubah struktur ekosistem sungai secara signifikan.
Pemerintah daerah terus mencari cara untuk menekan jumlah ikan sapu-sapu agar sungai kembali memiliki keanekaragaman hayati yang seimbang.
Kesimpulan: Langkah Pengendalian Jadi Kunci Pemulihan Sungai Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah tegas dengan mengubur ikan sapu-sapu hasil tangkapan sebagai bagian dari strategi pengendalian populasi. Langkah ini bertujuan melindungi ekosistem sungai sekaligus menjaga kesehatan masyarakat.
Pramono menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh mengonsumsi ikan ini karena kandungan logam berat yang berbahaya. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan KKP untuk mencari solusi pengelolaan jangka panjang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian spesies invasif membutuhkan tindakan cepat, konsisten, dan berbasis keamanan lingkungan. Dengan langkah yang tepat, sungai Jakarta diharapkan dapat kembali pulih dan mendukung kehidupan biota air yang lebih seimbang.