KJRI – Di Sydney menyambut dengan hangat pertunjukan tari kontemporer “Sisa-Sisa”, karya dua seniman Indonesia, yang memukau penonton dalam Festival Sydney pada Sabtu, 24 Januari 2026. Pertunjukan ini berhasil menghadirkan ekspresi seni Indonesia sekaligus membangun hubungan emosional yang kuat dengan audiens internasional. Selain itu, pertunjukan ini menunjukkan kemampuan seni untuk menjembatani pengalaman budaya yang berbeda.
Pendekar Muda Leonard Sondakh, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, menyatakan bahwa pertunjukan ini menegaskan kekuatan seniman Indonesia dalam menghadirkan pengalaman pribadi dan memori kolektif menjadi bahasa seni yang relevan di tingkat global. Bahkan, ia menambahkan, “Sisa-Sisa” bukan hanya sekadar pertunjukan tari, tetapi juga merupakan bentuk diplomasi budaya yang humanis dan efektif dalam membuka dialog lintas budaya.
Dua Karya Solo Membawa Kedalaman Tema
Pertunjukan Sisa-Sisa menampilkan dua karya solo yang sarat makna: Gelumbang Raya karya Murtala dan Jejak & Bisik karya Alfira O’Sullivan. Kedua karya ini lahir dari pengalaman pribadi masing-masing seniman, namun sekaligus mengangkat ingatan kolektif sehingga menciptakan refleksi artistik tentang trauma, kehilangan, migrasi, dan ketahanan manusia.
Dalam Gelumbang Raya, Murtala menelusuri pengalaman sebagai relawan pasca Tsunami Aceh 2004. Ia menghadirkan perjalanan batin yang mencerminkan duka dan trauma, namun sekaligus menegaskan keteguhan manusia untuk bertahan. Selanjutnya, Jejak & Bisik mengeksplorasi tubuh perempuan melalui tema fertilitas, perimenopause, keibuan, dan penuaan. Alfira O’Sullivan menghadirkan refleksi mendalam mengenai siklus kehidupan dan identitas perempuan.
Selain itu, kedua karya solo ini saling melengkapi sehingga membangun narasi utuh. Penonton tidak hanya menyaksikan gerak tari, tetapi juga diajak merenungkan pengalaman manusia yang universal. Bahkan, interaksi antara karya Murtala dan Alfira menciptakan pengalaman yang kaya secara emosional dan intelektual.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney, Australia mengapresiasi pertunjukan tari kontemporer bertajuk “Sisa-Sisa” karya dua seniman Indonesia dalam Festival Sydney pada Sabtu (24/1/2026).
Musik Orisinal Memperkuat Pengalaman Emosional
Pertunjukan ini juga diperkuat oleh musik orisinal karya Gondrong Gunarto, yang membangun lanskap bunyi untuk mendukung suasana emosional pertunjukan. Musik menghadirkan nuansa reflektif, memperkuat energi tari, dan membantu penonton merasakan kedalaman cerita yang dibawa oleh seniman. Selain itu, keselarasan antara gerak dan musik menciptakan pengalaman multisensorial yang membuat pertunjukan terasa hidup dan mendalam.
Di sisi lain, musik orisinal ini juga membuka ruang empati, sehingga penonton dapat terhubung dengan pengalaman batin seniman secara lebih intens. Hal ini menegaskan bahwa seni pertunjukan mampu menjadi medium komunikasi lintas budaya yang menyentuh hati.
Seni Sebagai Jembatan Budaya
KJRI menilai bahwa pertunjukan Sisa-Sisa berhasil menghadirkan kehangatan di tengah narasi trauma, sekaligus memperkuat dialog budaya antara Indonesia dan Australia. Terlebih lagi, pendekatan ini membuat pertunjukan relevan bagi masyarakat lokal sekaligus menegaskan posisi seni sebagai medium diplomasi budaya yang efektif.
Kontribusi Seniman Indonesia dalam Diplomasi Budaya
Partisipasi Sisa-Sisa dalam Festival Sydney 2026 menunjukkan peran aktif seniman Indonesia di panggung seni global. Bahkan, pertunjukan ini menegaskan pendekatan humanis dan inklusif yang berakar pada pengalaman hidup nyata. Selain itu, seni kontemporer Indonesia mampu menyampaikan pesan universal mengenai kemanusiaan, ketahanan, dan identitas, sehingga relevan bagi audiens dari berbagai latar belakang.
Keberhasilan Sisa-Sisa memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia dan membuktikan bahwa kreativitas seniman Indonesia dapat berbicara secara global. Dengan tarian, musik, dan refleksi mendalam, pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa seni kontemporer Indonesia mampu menjadi jembatan empati, memperluas dialog lintas budaya, dan memperkuat diplomasi budaya secara autentik.
Selain itu, KJRI menegaskan bahwa keberhasilan Sisa-Sisa di Festival Sydney membuktikan bahwa seni Indonesia tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan membangun pemahaman lintas budaya yang mendalam. Sehingga, pertunjukan ini menjadi contoh nyata bagaimana seni dapat menjadi sarana komunikasi yang universal dan relevan di dunia internasional.