Narkoba – Kasus kematian dua remaja di Singapura kembali mengguncang perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran serius tentang bahaya narkoba sintetis. Seorang remaja laki-laki dan seorang remaja perempuan kehilangan nyawa setelah mengonsumsi metamfetamin atau Ice. Fakta ini terungkap dalam sidang pemeriksaan kematian (koroner) yang berlangsung pada 20 Januari 2026. Lebih lanjut, pihak berwenang menyampaikan bahwa kedua remaja tersebut sama sekali belum pernah menggunakan narkoba sebelumnya. Oleh karena itu, pengalaman pertama mereka justru berujung pada tragedi fatal.

Meskipun otoritas tidak mengungkap identitas lengkap korban karena gag order, laporan media lokal menyebutkan bahwa korban laki-laki berusia 18 tahun, sedangkan korban perempuan berusia 16 tahun. Dengan demikian, kasus ini menyoroti kerentanan remaja terhadap narkoba, terutama ketika rasa ingin tahu tidak disertai pemahaman risiko.

Kronologi Penemuan Korban di Rumah

Polisi menemukan remaja laki-laki tersebut meninggal dunia di kamar tidurnya di sebuah rumah tiga lantai. Saat petugas tiba, tubuh korban sudah menunjukkan tanda kaku mayat. Selain itu, petugas mencatat adanya luka tumpul di bagian kepala dan wajah korban. Lebih jauh, polisi menemukan bubuk putih, kapsul berwarna hijau, serta perangkat rokok elektrik di sekitar lokasi kejadian.

Sementara itu, di kamar lain, petugas menemukan remaja perempuan dalam kondisi tidak sadar bersama seorang individu ketiga. Tim medis segera membawa korban perempuan ke Changi General Hospital. Namun demikian, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal pada hari yang sama. Hingga saat ini, pihak berwenang belum menjelaskan peran individu ketiga maupun siapa yang pertama kali menemukan para korban.

Narkoba

Foto.Ilustrasi Narkoba

Hubungan Korban Masih Menjadi Tanda Tanya

Penyelidik belum dapat memastikan apakah kedua remaja tersebut saling mengenal sebelum hari kejadian. Selain itu, aparat juga tidak menemukan kesamaan lingkar pertemanan di antara mereka. Bahkan, polisi belum dapat memastikan apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.

Meski luka terlihat pada tubuh korban laki-laki, polisi menegaskan tidak menemukan indikasi kekerasan dari pihak lain. Sebaliknya, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kedua remaja secara sadar dan sukarela mengonsumsi Ice. Pemeriksaan forensik juga mengonfirmasi keberadaan zat tersebut dalam tubuh mereka. Oleh karena itu, fokus penyelidikan mengarah sepenuhnya pada dampak narkoba.

Percakapan Ponsel Ungkap Rencana Konsumsi

Temuan penting muncul dari pemeriksaan ponsel korban laki-laki. Percakapan singkat menunjukkan bahwa ia memperoleh Ice dalam jumlah yang tidak diketahui dan berniat menjualnya. Selain itu, ia mengundang remaja perempuan ke rumahnya untuk mencoba narkoba tersebut bersama-sama.

Dalam percakapan itu, keduanya mengakui bahwa mereka belum pernah menggunakan narkoba sebelumnya. Bahkan, mereka sempat membahas cara mengonsumsi Ice. Selanjutnya, korban laki-laki memesan kendaraan sewaan untuk menjemput remaja perempuan tersebut. Setelah keduanya bertemu, mereka kemudian mengonsumsi narkoba bersama di rumah tersebut.

Efek Metamfetamin dan Temuan Otopsi

Polisi menjelaskan bahwa metamfetamin dapat memicu euforia ekstrem, agitasi tinggi, serta gerakan tubuh yang tidak terkendali. Oleh sebab itu, efek tersebut sangat mungkin menyebabkan benturan fisik tanpa campur tangan orang lain. Penjelasan ini membantu memahami asal luka tumpul pada tubuh korban laki-laki.

Hasil otopsi menunjukkan keberadaan amfetamin dan Ice dalam tubuh korban laki-laki dengan kadar yang sangat berbahaya. Sementara itu, pemeriksaan terhadap korban perempuan juga menemukan Ice serta ketamin. Namun, laporan medis belum memastikan apakah kadar zat tersebut mencapai tingkat mematikan. Oleh karena itu, otoritas meminta klarifikasi lanjutan untuk memastikan penyebab kematian korban perempuan.

Peringatan Serius bagi Remaja dan Orang Tua

Kasus ini kembali menegaskan bahwa narkoba sintetis membawa risiko tinggi, bahkan bagi pengguna pemula. Rasa penasaran tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi ancaman nyata bagi nyawa. Oleh karena itu, edukasi tentang bahaya narkoba harus terus diperkuat di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Selain itu, orang tua dan pendidik perlu membangun komunikasi terbuka dengan remaja. Dengan pendekatan tersebut, remaja dapat memahami risiko sebelum mengambil keputusan berbahaya. Melalui kesadaran bersama, masyarakat dapat mencegah tragedi serupa di masa depan.