Pemerintah – Terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat transmigrasi melalui penguatan komoditas lokal bernilai tambah. Dalam konteks tersebut, Kementerian Transmigrasi memilih Nanas Moris sebagai salah satu produk unggulan kawasan transmigrasi. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi daerah.
Sebagai tindak lanjut, Viva Yoga Mauladi melakukan kunjungan lapangan ke Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi di Pekanbaru. Kunjungan tersebut bertujuan meninjau berbagai demplot pengembangan ekonomi yang akan diterapkan secara luas di kawasan transmigrasi.
Demplot sebagai Model Pengembangan Ekonomi Lokal
Dalam kunjungan tersebut, Viva Yoga meninjau sejumlah demplot unggulan, mulai dari penanaman Nanas Moris, budidaya ikan nila, pengembangan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), hingga pertanian hidroponik. Pemerintah merancang demplot tersebut sebagai model nyata yang dapat masyarakat tiru dan kembangkan sesuai karakter wilayah transmigrasi masing-masing.
Melalui pendekatan ini, Kementerian Transmigrasi menyesuaikan setiap demplot dengan kondisi iklim, jenis tanah, serta kebutuhan ekonomi lokal. Oleh karena itu, kawasan transmigrasi tidak hanya berfungsi sebagai lokasi hunian baru, tetapi juga berkembang sebagai pusat produksi dan aktivitas ekonomi produktif.
Lebih lanjut, Viva Yoga menegaskan bahwa demplot di Balai Pekanbaru berperan sebagai laboratorium lapangan bagi calon transmigran. Dari tempat ini, masyarakat dapat mempelajari praktik terbaik pengelolaan komoditas unggulan sebelum menerapkannya secara mandiri.

Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Riau. (Liputan6.com/Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra)
Potensi Ekonomi Tinggi Nanas Moris
Nanas Moris menarik perhatian pemerintah karena fleksibilitas pemanfaatannya yang sangat luas. Viva Yoga mengungkapkan kekagumannya terhadap karakter nanas lokal ini. Menurutnya, buah Nanas Moris memiliki rasa manis alami dan kandungan fruktosa tinggi, sehingga masyarakat dapat mengolahnya menjadi minuman sehat tanpa tambahan gula.
Selain buahnya, seluruh bagian tanaman Nanas Moris memiliki nilai ekonomi. Batang dan daun nanas dapat menghasilkan serat yang masyarakat olah menjadi benang, kain, hingga bahan baku bioetanol. Selain itu, industri pupuk, kosmetik, dan produk ramah lingkungan juga dapat memanfaatkan tanaman ini.
Dengan potensi tersebut, Viva Yoga mendorong pengembangan rumah produksi nanas secara masif. Menurutnya, hilirisasi yang terencana akan memperkuat nilai tambah komoditas sekaligus membuka lapangan kerja baru di kawasan transmigrasi.
Strategi Pengembangan Berbasis Keunggulan Wilayah
Pemerintah merancang pengembangan ekonomi transmigrasi berdasarkan keunggulan spesifik setiap daerah. Viva Yoga menekankan bahwa setiap kawasan memiliki komoditas unggulan yang berbeda. Oleh sebab itu, pendekatan seragam tidak akan menghasilkan dampak maksimal.
Sebagai contoh, wilayah Riau mengembangkan rumah produksi nanas, sementara Maluku Utara mengandalkan pala, dan Maluku mengembangkan sagu. Dengan strategi ini, setiap kawasan transmigrasi dapat membangun identitas ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Pendekatan berbasis potensi lokal ini juga mendorong distribusi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Ketika setiap wilayah mengoptimalkan komoditas unggulannya, maka kawasan transmigrasi akan tumbuh sebagai simpul ekonomi baru yang saling melengkapi.
Festival Nanas sebagai Penguat Identitas dan Edukasi
Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Pekanbaru, Ahmad Syahir, menyampaikan bahwa pengembangan Nanas Moris juga mendapat dukungan melalui Festival Nanas. Balai Pekanbaru menyelenggarakan kegiatan ini bersamaan dengan peresmian pusat edukasi Nanas Moris, penanaman bibit, dan panen simbolis di area demplot.
Festival ini tidak sekadar menghadirkan kegiatan seremonial. Sebaliknya, Balai Pekanbaru menggunakan momentum tersebut sebagai sarana edukasi, promosi, dan penguatan nilai ekonomi komoditas nanas. Ahmad menegaskan bahwa balai mengemban amanah besar untuk mendorong nanas naik kelas sebagai produk unggulan kawasan transmigrasi.
Nanas Moris sebagai Simbol Ketangguhan Transmigrasi
Balai Pekanbaru bahkan menjadikan Nanas Moris sebagai maskot institusi. Ahmad Syahir menjelaskan bahwa nanas melambangkan ketangguhan, adaptasi, dan harapan. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan panas, tandus, maupun gambut, sehingga mencerminkan semangat masyarakat transmigrasi dalam menghadapi keterbatasan.
Filosofi tersebut juga mencerminkan nilai kerja organisasi. Ahmad menilai bahwa ketangguhan nanas menggambarkan kemampuan untuk tetap produktif dan menghasilkan kinerja terbaik di tengah tantangan.
Hilirisasi sebagai Kunci Keberlanjutan
Balai Pekanbaru menargetkan hilirisasi produk nanas sebagai langkah lanjutan. Pada tahun ini, balai berencana mengolah daun nanas menjadi serat benang bernilai ekonomi. Untuk mencapai target tersebut, tim balai telah mengikuti pelatihan intensif bersama para ahli dan pelaku usaha pengolahan daun nanas.
Melalui hilirisasi, Nanas Moris tidak hanya berperan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai fondasi industri berbasis desa. Dengan demikian, kawasan transmigrasi dapat berkembang sebagai pusat ekonomi mandiri yang berkelanjutan dan inklusif.
Kesimpulan
Pengembangan Nanas Moris menunjukkan arah baru kebijakan transmigrasi yang berorientasi pada kemandirian ekonomi. Melalui penguatan potensi lokal, pembangunan demplot, dan hilirisasi produk, kawasan transmigrasi memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tangguh dan berkelanjutan.