Di Kampung Nelayan Kejawan Lor – Kenjeran, Surabaya, kegiatan mengasap ikan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Aroma khas ikan asap yang tercium dari tungku-tungku sederhana menjadi penanda kehidupan pesisir yang terus berjalan. Salah satu pelaku utama dalam usaha ikan asap ini adalah Bu Cenit. Dengan pengalaman 24 tahun, ia tetap setia mengolah ikan laut menjadi produk khas yang tidak hanya di minati di Surabaya, tetapi juga di luar kota.

Mengawali Usaha dari Nol

Bu Cenit memulai usaha ikan asapnya dengan modal yang sangat terbatas. Dulu, ia membeli ikan dari Pasar Wonokusumo, Surabaya. Namun, semakin mahalnya harga ikan membuatnya kesulitan untuk bertahan. Untuk itu, Bu Cenit memutuskan untuk membeli ikan langsung dari nelayan. Keputusan ini terbukti sangat membantu dalam menjaga kelancaran usahanya. Ikan yang dibeli langsung dari nelayan lebih segar, dan ia bisa mengatur harga serta kualitas produk dengan lebih baik.

“Dulu saya membeli ikan di pasar, tapi harganya terus naik. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli langsung dari nelayan. Selain lebih segar, harga bisa lebih terjangkau,” kata Bu Cenit.

Ikanasap

Bu Cenit selama 24 tahun, setia mengolah ikan laut menjadi produk khas pesisir utara Surabaya, berbekal ketekunan dan pengetahuan tradisional yang ia pelajari sejak kecil.(KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)

Proses Pengolahan Ikan Asap

Setelah mendapatkan ikan segar, Bu Cenit langsung membersihkannya dengan cepat. “Ikan harus segera dibersihkan supaya kualitasnya tetap terjaga. Setelah itu, ikan di potong, di cuci hingga bersih, dan siap untuk di bakar,” jelas Bu Cenit.

Pengasapan ikan di lakukan dengan cara tradisional, menggunakan api yang di kontrol dengan cermat. Pembakaran ikan berlangsung sekitar lima menit, namun durasi ini bisa berbeda-beda tergantung jenis ikan yang di gunakan. Sebagai bahan bakar utama, Bu Cenit menggunakan tempurung kelapa. Namun, dengan harga tempurung kelapa yang terus meningkat, ia kini juga menggunakan batang jagung yang lebih murah. “Batang jagung lebih hemat dan mudah di dapat. Sehingga, saya bisa tetap mempertahankan biaya produksi yang terjangkau,” ujar Bu Cenit.

Tantangan yang Dihadapi

Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi Bu Cenit dalam menjalankan usaha ikan asap adalah ketergantungan pada kondisi laut. Cuaca buruk dan pasang surut menjadi faktor yang menentukan ketersediaan ikan. “Kadang, cuaca buruk membuat nelayan kesulitan untuk melaut. Kalau anginnya kencang atau ombak besar, nelayan tidak bisa pergi,” ujarnya. Hal ini membuat pasokan ikan tidak selalu stabil, yang pada gilirannya bisa mempengaruhi harga dan jumlah produksi.

Selain itu, bahan bakar juga menjadi tantangan. Meskipun Bu Cenit telah beradaptasi dengan menggunakan batang jagung, harga tempurung kelapa yang terus naik tetap memengaruhi biaya produksi. Meskipun demikian, Bu Cenit tetap berusaha mengelola segala tantangan tersebut dengan bijak, sehingga usaha ikan asapnya tetap berjalan.

Pemasaran dan Distribusi

Bu Cenit mengirimkan hasil produksinya ke Pasar Pabean Surabaya setiap hari. Selain itu, ia juga mengirimkan ikan asap ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Bali. “Pesanan dari luar kota cukup banyak. Biasanya mereka membeli dalam jumlah besar. Kalau ada yang pesan satuan, saya tetap layani,” kata Bu Cenit.

Kebanyakan pembeli adalah pedagang atau konsumen yang ingin membeli dalam jumlah besar, terutama menjelang musim liburan atau hari raya. Seiring waktu, permintaan ikan asap Bu Cenit semakin meningkat, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun oleh-oleh khas Surabaya.

Produksi Berlanjut Meski Hari Raya

Meski banyak usaha yang libur pada saat hari raya, Bu Cenit tidak pernah berhenti memproduksi. “Selama Lebaran, saya tetap produksi. Permintaan ikan asap lebih banyak saat itu. Idul Fitri adalah puncak produksi kami,” ujarnya. Bahkan, menjelang puasa dan Lebaran, produksi ikan asap meningkat drastis. Hanya saat Idul Adha ia libur sehari. “Kalau Idul Fitri ramai, banyak orang yang memesan,” tambahnya.

Kesimpulan

Dengan ketekunan dan keuletan, Bu Cenit tetap menjalankan usaha ikan asap meski menghadapi berbagai tantangan. Pengalaman dan pengetahuan tradisional yang ia miliki sejak kecil membuatnya mampu bertahan di tengah persaingan dan kondisi yang tidak menentu. Bu Cenit terus mempertahankan kualitas ikan asapnya dan menjaga kelangsungan usaha di tengah perubahan harga bahan bakar dan pasokan ikan. Usahanya bukan hanya melestarikan tradisi kuliner Surabaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir di Kenjeran.