Jakarta – salah satu kota besar di Indonesia, terus menghadapi tantangan biaya hidup yang semakin tinggi. Meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) menjadi Rp 5,7 juta per bulan pada akhir Desember 2025, kenyataannya banyak perusahaan yang belum menyesuaikan gaji karyawan mereka sesuai dengan ketentuan tersebut. Hal ini menyebabkan banyak warga, terutama pekerja dengan penghasilan terbatas, harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Gaji Tidak Seimbang dengan Biaya Hidup

Salah satu contoh adalah Anitia (25), seorang karyawan swasta yang mendapatkan gaji sekitar Rp 2,5 juta per bulan, jauh di bawah ketentuan UMP Jakarta. Sebagai generasi sandwich, Anitia harus menanggung biaya hidup untuk anak dan orang tuanya, sementara suaminya yang bekerja sebagai kurir hanya memperoleh penghasilan Rp 3,5 juta per bulan. Dari gaji tersebut, mereka harus membayar kontrakan dan tagihan listrik yang menghabiskan sekitar Rp 2 juta setiap bulannya.

Anitia menyebutkan bahwa hidup dengan penghasilan terbatas memaksa mereka untuk mengatur setiap pengeluaran dengan sangat ketat. “Kalau dibilang cukup atau enggaknya, ya di cukup-cukupin. Mau gimana lagi,” ungkapnya saat di wawancarai di Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

Jakarta

Ilustrasi menghemat uang. (Freepik)

Menghemat Pengeluaran dengan Memasak di Rumah

Salah satu cara Anitia untuk menghemat pengeluaran adalah dengan rutin memasak di rumah meskipun kesibukan pekerjaannya cukup padat. “Makan sehari-hari di hemat, kalau bisa masak daripada beli di luar. Apalagi makannya enggak sendiri, bisa sama suami dan anak, jadi lebih murah masak,” tambah Anitia.

Dengan memasak sendiri, Anitia hanya membutuhkan sekitar Rp 50.000 untuk makan keluarga dalam satu hari. Jika membeli makanan di luar, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 100.000 per hari. Selain itu, Anitia juga mengaku sering menunda keinginan pribadi, seperti jalan-jalan atau membeli produk perawatan diri, demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. “Saya menunda jalan-jalan, menunda beli skincare, dan irit-irit kalau bisa cari yang murah,” ujarnya.

Menjalani Hidup Sederhana dengan Lauk yang Murah

Bagi Waci (50), seorang pegawai salon kecantikan, mengatur pengeluaran juga menjadi tantangan besar. Pendapatannya sangat bergantung pada banyaknya pelanggan yang datang. “Kalau ramai, bisa dapat Rp 100.000, kadang Rp 50.000, kalau sepi kadang cuma Rp 20.000 per hari,” kata Waci saat di temui di Jakarta Selatan, Senin. Pendapatan suaminya yang bekerja sebagai driver ojek online juga sangat bervariasi setiap harinya.

Meski pendapatan tidak menentu, Waci berusaha sekuat tenaga untuk mencukupi semua kebutuhan hidup keluarga. “Cukup enggak cukup, ya di cukupin deh. Itu buat makan, bayar kontrakan, dan semua keperluan rumah tangga. Kontrakan juga Rp 800.000 per bulan,” ujarnya.

Harga sembako yang semakin tinggi membuat Waci dan keluarganya harus lebih banyak memilih lauk sederhana dan menghindari makan di luar. “Kalau lauk mahal, kami masak sendiri. Kalau enggak bisa masak, ya beli yang murah-murah saja,” kata Waci.

Memanfaatkan Program Sosial dan Tidak Merokok

Di sisi lain, Ohar (70), seorang pedagang kerak telur, memilih untuk memanfaatkan program sosial Jumat Berkah yang membagikan nasi gratis kepada warga setiap hari Jumat. Menurut Ohar, nasi gratis ini sangat membantu dirinya mengurangi pengeluaran sehari-hari. “Kadang ada nasi gratis kalau Jumat berkah, sudah dua tahun ada yang ngasih uang juga ke tukang jualan,” kata Ohar di Jakarta International Expo (JIExpo), Pademangan, Jakarta Utara, Selasa (30/12/2025).

Sebagai pedagang kerak telur, Ohar hanya bisa menjual rata-rata 6 hingga 8 porsi setiap harinya dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Jika seluruh porsi laku terjual, Ohar bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 80.000 per hari. Namun, sering kali hanya sekitar 4-5 porsi yang terjual, dan pendapatan yang didapat hanya sekitar Rp 40.000. Uang sebesar itu harus di gunakan dengan sangat hati-hati untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membayar kontrakan.

Ohar juga mengaku menghemat biaya dengan tidak merokok, meskipun banyak orang yang menganggap hidup di Jakarta sangat mahal. “Saya enggak merokok, itu salah satu cara saya menghemat pengeluaran,” ujar Ohar.

Kesulitan Hidup di Jakarta: Bertahan dengan Kreativitas

Kenaikan biaya hidup yang terus meningkat memaksa warga Jakarta untuk lebih kreatif dalam mengelola keuangan mereka. Meskipun gaji banyak pekerja tidak sebanding dengan biaya hidup yang semakin mahal, mereka tetap berusaha bertahan dengan berbagai cara yang hemat dan efektif. Beberapa strategi yang banyak di terapkan warga Jakarta antara lain memasak di rumah, memilih lauk sederhana, memanfaatkan program sosial seperti Jumat berkah, dan menahan diri untuk tidak menghabiskan uang pada hal-hal yang tidak mendesak.

Berbagai tantangan ekonomi yang di hadapi oleh masyarakat Jakarta menyoroti ketidaksetaraan yang masih ada antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan. Meskipun demikian, ketangguhan dan kreativitas warga Jakarta dalam mengatasi kesulitan ini patut di contoh. Mereka terus menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi sulit, usaha dan inovasi menjadi kunci untuk bertahan hidup di tengah kota besar yang semakin berkembang ini.