Di tepian Sungai Musi kehidupan kuliner Palembang berdenyut tanpa henti. Tidak jauh dari Jembatan Ampera, sebuah perkampungan tumbuh sebagai pusat aktivitas pempek dengan harga terjangkau dan cita rasa autentik. Kawasan ini bukan sekadar tempat berjualan, melainkan ruang hidup yang menyatukan tradisi, ekonomi rakyat, dan kebersamaan warga.

Sejak pagi hari, aroma ikan dan sagu yang menyatu dengan uap kukusan langsung menyapa siapa pun yang melintas. Oleh karena itu, kawasan ini selalu ramai oleh pembeli lokal, wisatawan, hingga pedagang yang saling berinteraksi. Dengan ritme yang konsisten, sentra pempek di tepian Musi menunjukkan bagaimana kuliner tradisional mampu menghidupi komunitas secara berkelanjutan.

Tradisi Kuliner yang Mengakar Kuat

Pertama-tama, pempek bukan sekadar makanan bagi warga Palembang. Pempek mewakili identitas dan kebanggaan daerah. Di perkampungan tepian Musi ini, keluarga-keluarga mempertahankan resep turun-temurun yang terus hidup dari generasi ke generasi. Dengan demikian, setiap adonan menyimpan cerita panjang tentang ketekunan dan kecintaan pada warisan leluhur.

Selain itu, proses pembuatan pempek berlangsung secara terbuka. Warga mengaduk adonan, membentuk lenjer dan kapal selam, lalu merebusnya di dapur sederhana. Aktivitas ini menghadirkan suasana yang akrab dan membumi. Oleh sebab itu, pembeli tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga menyaksikan proses yang jujur dan penuh keterampilan.

Kampung pempek

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang pesat. Kini, Minah bersama warga lainnya mampu memproduksi sekitar 70 hingga 100 kilogram daging ikan setiap hari. Jumlah tersebut mencerminkan tingginya permintaan pasar terhadap pempek produksi Kampung Pempek 7 Ulu. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

Harga Terjangkau, Rasa Tetap Juara

Selanjutnya, sentra pempek di tepian Musi menawarkan harga yang ramah di kantong. Para penjual menargetkan pasar luas, mulai dari pelajar hingga wisatawan. Meskipun harga terjangkau, kualitas tetap terjaga. Ikan segar dari sungai dan laut sekitar menjadi bahan utama, sementara kuah cuko diracik dengan keseimbangan rasa asam, manis, dan pedas.

Lebih jauh, variasi pempek tersedia lengkap. Lenjer, adaan, kulit, hingga kapal selam memenuhi etalase sederhana. Dengan pilihan ini, pembeli dapat menyesuaikan selera tanpa perlu merogoh kocek dalam. Oleh karena itu, kawasan ini selalu menjadi tujuan favorit pencinta kuliner lokal.

Peran Sungai Musi dalam Aktivitas Warga

Tidak dapat dipisahkan, Sungai Musi memainkan peran penting dalam kehidupan sentra pempek ini. Sungai menyediakan akses transportasi, sumber bahan baku, serta latar kehidupan sehari-hari warga. Kapal-kapal kecil berlalu-lalang membawa ikan segar dan kebutuhan lain. Dengan kondisi ini, ekosistem ekonomi lokal terus bergerak dinamis.

Selain itu, kedekatan dengan sungai menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Angin sepoi-sepoi, suara air, dan aktivitas perahu berpadu dengan hiruk pikuk dapur pempek. Oleh karena itu, pengalaman kuliner di sini terasa lebih autentik dan berkesan.

Magnet Wisata Kuliner Kota Palembang

Seiring waktu, sentra pempek di tepian Musi berkembang sebagai magnet wisata kuliner. Wisatawan yang berkunjung ke Palembang kerap menyempatkan diri singgah ke kawasan ini. Lokasinya yang dekat dengan Jembatan Ampera membuat akses semakin mudah.

Selain mencicipi pempek, pengunjung juga menikmati suasana kampung yang ramah. Warga menyambut tamu dengan senyum dan percakapan ringan. Dengan demikian, interaksi sosial menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Kuliner dan keramahan berpadu membentuk daya tarik yang kuat.

Ekonomi Rakyat yang Terus Bergerak

Lebih lanjut, sentra pempek ini menggerakkan ekonomi rakyat secara nyata. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari produksi dan penjualan pempek. Aktivitas ini membuka lapangan kerja, mulai dari pengolahan bahan baku hingga distribusi penjualan.

Selain itu, usaha kecil ini mendorong kemandirian ekonomi. Warga mengelola usaha secara mandiri tanpa bergantung pada modal besar. Dengan konsistensi dan kerja keras, mereka menjaga keberlanjutan usaha di tengah tantangan zaman. Oleh karena itu, sentra pempek ini mencerminkan kekuatan ekonomi berbasis komunitas.

Menjaga Warisan di Tengah Perubahan

Pada akhirnya, sentra pempek di tepian Sungai Musi menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan di tengah modernisasi. Warga terus menjaga resep, kualitas, dan nilai kebersamaan. Sementara itu, mereka juga beradaptasi dengan kebutuhan pasar dan pariwisata.

Dengan denyut kehidupan yang terus bergerak, kawasan ini bukan hanya pusat pempek murah meriah, tetapi juga simbol ketahanan budaya Palembang. Oleh sebab itu, siapa pun yang ingin memahami jiwa kota ini perlu mengintip langsung denyut nadi sentra pempek di tepian Musi—tempat rasa, tradisi, dan kehidupan berpadu tanpa henti.