Petugas – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama unsur gabungan berhasil menangkap seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di kawasan Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Hewan langka tersebut masuk ke dalam kandang jebak yang telah tim petugas siapkan sebagai respons atas kemunculan harimau di sekitar area permukiman warga.
Tim lapangan langsung bergerak setelah kamera jebak merekam keberadaan satwa tersebut di sekitar lokasi. Petugas kemudian memantau pergerakan harimau hingga akhirnya hewan tersebut masuk perangkap pada pagi hari. Keberhasilan ini terjadi setelah beberapa hari persiapan dan pengawasan intensif di wilayah yang sering di lalui satwa liar tersebut.
Proses Evakuasi Berlangsung Cepat dan Terkendali
Setelah memastikan kondisi aman, tim medis satwa melakukan tindakan pembiusan untuk menenangkan harimau. Petugas kemudian mengangkat tubuh harimau dengan sangat hati-hati menggunakan kain sarung khusus agar tidak menimbulkan cedera selama proses pemindahan.
Tim gabungan membawa harimau tersebut sejauh kurang lebih 200 meter dari lokasi kandang jebak menuju titik aman yang telah di siapkan. Proses evakuasi berlangsung dengan pengawasan ketat dari BKSDA, aparat kepolisian sektor Palupuh, Koramil Lubuk Basung, serta dukungan masyarakat sekitar yang membantu mengamankan jalur evakuasi.
Seluruh proses berjalan cepat dan terkoordinasi dengan baik sehingga tidak menimbulkan gangguan bagi warga maupun risiko bagi petugas di lapangan.
Kolaborasi Lintas Instansi Jadi Kunci Keberhasilan
Keberhasilan evakuasi ini tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak yang terlibat sejak awal penanganan konflik satwa liar di wilayah tersebut. BKSDA Sumatera Barat memimpin operasi bersama Patroli Anak Nagari (Pagari), aparat keamanan, dan masyarakat setempat.
Setiap unsur memiliki peran penting. Petugas BKSDA mengatur strategi teknis penangkapan, tim medis menangani pembiusan, aparat keamanan menjaga area agar tetap steril, sementara masyarakat membantu memberikan informasi dan dukungan di lapangan.
Sinergi tersebut mempercepat proses pengamanan satwa sekaligus meminimalkan potensi konflik antara manusia dan harimau yang sempat berkeliaran di sekitar lahan pertanian warga.

Petugas gabungan dari BKSDA Sumbar, Koramil Palupuh, Polsek Palupuh dan Pagari membawa harimau Sumatera yang terjerat di Kabupaten Agam, Jumat (22/5/2026).
Harimau Dibawa untuk Pemeriksaan Kesehatan
Setelah berhasil di amankan, tim segera membawa harimau ke Kantor Seksi Wilayah I BKSDA Sumatera Barat di Koto Bukittinggi. Di lokasi tersebut, dokter hewan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi fisik satwa tetap stabil setelah proses penangkapan.
Tim konservasi menyiapkan langkah lanjutan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan. Jika kondisi harimau menunjukkan tanda-tanda sehat dan layak, petugas akan memindahkan satwa tersebut ke habitat yang lebih aman dan jauh dari pemukiman manusia. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko konflik berulang di masa depan.
Latar Belakang Kemunculan Harimau di Permukiman
Sebelum proses penangkapan berlangsung, warga di Kecamatan Palupuh dan beberapa wilayah sekitar seperti Matur dan Palembayan sering melaporkan kemunculan harimau di area perkebunan dan sawah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena aktivitas satwa tersebut mulai mendekati wilayah yang sering di gunakan masyarakat untuk bekerja.
Menanggapi laporan tersebut, BKSDA Sumatera Barat segera memasang kandang jebak sejak dua hari sebelum penangkapan terjadi. Tim juga melakukan pemantauan menggunakan kamera jebak untuk mengetahui pola pergerakan satwa secara lebih akurat.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa harimau mulai aktif di sekitar lokasi sejak dini hari. Tidak lama setelah itu, hewan tersebut akhirnya masuk ke perangkap yang telah tim siapkan.
Dugaan Adanya Kelompok Harimau Lain di Sekitar Lokasi
Selain individu yang berhasil tertangkap, petugas juga menemukan jejak kaki harimau lain di sekitar area penangkapan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa masih ada lebih dari satu ekor harimau yang berkeliaran di kawasan hutan dan perbatasan permukiman.
BKSDA Sumatera Barat kemudian memutuskan untuk melanjutkan pemantauan di lokasi selama beberapa hari ke depan. Tim ingin memastikan tidak ada satwa lain yang membahayakan warga sebelum benar-benar menyatakan kondisi wilayah aman.
Upaya Pencegahan Konflik Manusia dan Harimau
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa penyempitan habitat alami mendorong satwa liar mendekati wilayah manusia. Aktivitas pembukaan lahan dan perubahan fungsi hutan membuat ruang jelajah harimau semakin terbatas.
BKSDA menegaskan bahwa penanganan menggunakan kandang jebak hanya di lakukan sebagai langkah terakhir setelah upaya penghalauan tidak lagi efektif. Pendekatan ini bertujuan menjaga keselamatan masyarakat sekaligus mempertahankan kelestarian Harimau Sumatera yang statusnya semakin terancam punah.
Kesimpulan
Evakuasi Harimau Sumatera di Kabupaten Agam berjalan sukses berkat kerja sama erat antara BKSDA, aparat keamanan, dan masyarakat. Proses penanganan berlangsung cepat, aman, dan terkontrol mulai dari penangkapan hingga pemindahan ke fasilitas observasi.
Langkah lanjutan berupa pemeriksaan kesehatan dan rencana translokasi menjadi bagian penting dalam upaya konservasi satwa langka ini. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara aktivitas manusia dan kehidupan satwa liar perlu terus di jaga agar konflik serupa tidak terulang di masa mendatang.